Sebelum artikel ini dibaca, dimohon bagi semua manusia termasuk umat muslim untuk memahami Kitab-nya dengan konteks. Maksudnya kita harus memahami Kitab dari segi waktu, apakah yang dijelaskan itu konteksnya waktu lampau, sekarang atau berhubungan antara waktu lampau dan sekarang. Dalam artikel ini mari kita mencoba memahami konteks perbudakan sebagai contoh.
Islam lahir ketika Perbudakan masih berjalan. Kita yang hidup sekarang ini pasti akan memandang bahwa perbudakan adalah hal yang keliru dan harus dihapuskan. Tetapi jika kita hidup dijaman lampau dari jaman nabi Ibrahim, Romawi, Persia dll maka perbudakan adalah keniscayaan. Perbudakan adalah hal yang memang ada. Cuma yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa setiap budak mempunyai hak-hak nya yang perlu dihormati. Tetapi yang terjadi di lapangan pada saat itu banyak sekali budak yang disiasiakan dan tidak diakui haknya dan dipakai sebagai sapi perahan, hal ini tentu salah. Sebenarnya kata “Perbudakan” adalah kata turunan. Karena perbudakan adalah pelayan yang secara hak tidak diakui. Mirip sekarang ini dimana pelayan (tenaga) bisa diperdagangkan. Presiden dibayar karena tenaganya tetapi dihargai haknya. Sedangkan budak dipakai tenaganya tetapi tidak dihargai haknya.
Akan kita ambil contoh, misalnya dalam Al-Quran. Banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan tentang perbudakan. Misalnya tentang keutamaan menikahi wanita budak daripada menikahi wanita kafir. Atau keharusan membebaskan budak untuk menebus kesalahan.
Dari sini kita bisa memahami bahwa Islam lahir menyesuaikan hukum yang sedang berlaku di dalam suatu masyarakat. Jika ayat tentang perbudakan berlaku sepanjang hayat, tentu sekarang tidak bisa dipakai, karena sekarang sudah tidak ada perbudakan. Inilah yang perlu umat muslim perhatikan.
Al-Quran memang sempurna karena ayat2nya yang memang luar biasa, tetapi selain itu sempurna disini maksudnya sempurna secara pemikiran. Bahwa yang perlu kita pahami dari Al-Quran adalah “Bagaimana Cara Berfikir Al-Quran”, bukannya bagaimana agar ayat-ayat Al-Quran bisa digunakan dalam keseharian.
Jika kita memahami Al-Quran hanya dari segi ayat yang diterapkan terhadap kehidupan sehari-hari maka yang terjadi seperti yang kita lihat selama ini yaitu banyaknya aliran-aliran Islam yang memilih tidak bersatu karena hanya fikih yang berbeda.
Tetapi jika kita memahami ayat sebagai memahami “Cara Berfikir Al-Quran” maka tentu kita tidak terpecah belah hanya karena fikih yang berbeda. Kita bisa mengambil contoh dari hadits nabi. Nabi Muhammad dalam mengajar Islam pasti juga sesuai konteks, dimana ada kemungkinan apa yang diajarkan nabi tidak sama pada orang yang beda dan daerah yang beda.
by Wedul Sherenian
Artikel Sebelumnya :


pemikir
28 Juni 2011
Kitab yang hebat yang rancang oleh orang yang BUTA HURUF
!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!!?!?!?!?!?!?!?!
حَنِيفًا
6 Juli 2011
@Oom Pemihkir
pemikir, kok idiot seh…
Buktiken Alkitab ditandatangi oleh YESUS atau kitab BUDDHAYUT sama Si BUta dari gua hantu… hehehe…
Apa itu UMMI ?!
http://haniifa.wordpress.com/2008/01/06/arti-ummi-bukanlah-buta-huruf-melainkan-buta-agama/
Wedul Sherenian
6 Juli 2011
@Pemikir
melengkapi kang @Hanifa
http://vilaputih.wordpress.com/2009/10/16/jibril-ummi-muhammad/
ilham othmany
1 Juli 2011
Setuju sama kang wedul.Wallahu a’lam.
crimit
1 Juli 2011
hi
abu hanan
4 Juli 2011
Setuju sama kang wedul.Wallahu a’lam.
makmum sama @ilham
Maren Kitatau
25 November 2011
Kalo Kang Illahm agak ogah,
Mungkin Mas Stain Remover:
-
Pls apa aku kleru mengerti soal “kuasa” dan “menjamini” wahyu itu, Mas!
Soale Penghafal itu bagai berkuasa juga menjamini keaslian wahyun itu pd Percetakan
Dan mungkin, kuasa percetakanlah yg memberi nomor-nomor pd ayat dan bab-babnya..
-
Salam Damai!
Stain Remover
25 November 2011
Tapi para penghafal-lah yang mampu mengoreksi kesalahan cetak.
Maren Kitatau
26 November 2011
Ya, bisa jadi penghafal lebih berkuasa dari pd pencetak.
Yg kupertanyakan adalah soal rentetan kuasa menjamini wahyu itu.
Pls! Mas Stain!
-
Kalau soal Muhammad bisa menghadap Allah SWT aku malum.
-
Salam Damai!
Stain Remover
26 November 2011
Sebenar semua kitab suci yang pernah diturunkan ALLAH SWT termasuk Al Qur’an kepada setiap utusan-NYA sudah tertulis didalam lauh mahfudz.
Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (Al-Anbiyaa : 105)
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az-Zukhruf : 4)
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia,
yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Al-Buruuj : 21-22)
berikut rentetannya :
ALLAH -> JIBRIL -> Muhammad ( Para Nabi dan Rasul)-> Umat
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (An-Nahl : 102)
Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (Al-A’laa – Ayat: 6)
Prosesnya :
Al-Qiyaamah : 16-19
16. Janganlah kamu (Muhammad)gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
DENOK DEBLUNG
29 November 2011
@MAREN
Kamu kesini aja :
http://numerical19.tripod.com/
Maren Kitatau
29 November 2011
Kesini in aja yg sana,
Biar di sana dingin di sini anget, hehe
Ya, ntar deh gua kesana klalau di sini dingin!
Salam Damai!
Maren Kitatau
26 November 2011
Mungkin kau benar Mas Stain,
Bagi Islam, pada mulanya adalah Tulisan.
Bagi Kristen, pada mulanya adalah Firman.
Siapa mereka pada mulanya,
Jika pada mulanya adalah tulisan?
Apa itu bicara takdir juga maksudnya?
Hal berdosa dan berpahala, berdusta dan bersahaja,
Telah tertulis dan tersimpan juga di Lauh Mahfuzh itu?
Segitu dulu Mas Stain!
Nanti kulanjut, Tq!
Salam Damai!
Stain Remover
26 November 2011
@Maren Kitatau
Siapa mereka pada mulanya,
Jika pada mulanya adalah tulisan?
Apa itu bicara takdir juga maksudnya?
Hal berdosa dan berpahala, berdusta dan bersahaja,
Telah tertulis dan tersimpan juga di Lauh Mahfuzh itu?
Segitu dulu Mas Stain!
Nanti kulanjut, Tq!
Jawab—-> Benar semua yang dahulu, sekarang dan yang akan datang semuanya telah tertulis dalam lauh mahfudz.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadiid : 3)
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
—-
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus : 61)
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Faathir : 11)
—-
Takdir :
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. (Adz-Dzaariyat : 22)
Ada banyak takdir yang telah ditetapkan ALLAH SWT kepada setiap orang, artinya pada satu orang ALLAH SWT telah menetapkan takdir-takdir.
salam
Maren Kitatau
26 November 2011
Jadi ini beda kita yg lebih jauh lagi:
Bagi Islam, pada mulanya adalah Tulisan.
Bagi Kristen, pada mulanya adalah Firman.
Tulisan berkenaan dgn pena, mata, baca, suara, telinga, gambar.
Firman berkenaan dgn suara, telinga, gambar.
Ini rekaan ku saja, Mas!
Allah SWT -> Jibril -> Muhammad
Ketiganya hrs punya kuasa menjamin yg setara
Kurasa harus begitu, kan Mas Stain.
Muhammad -> Sahabat -> Penghafal
Semuanya juga hrs punya kuasa menjamin yg sama.
Maka, jaminan kuasa Allah SWT tak beda dari Penghafal itu.
Dan kita-kita …
Apa boleh begitu kesimpulan sementara kita.
Jadi benar, mulanya adalah tulisan.
Setelah tulisan barulah Dia berfirman,
Dan, firman itulah yg menjadi tulisan lagi,
Quran.
Tentu bukan hanya sekitab itu tulisan-Nya.
Aku ragu jika tulisan itu hanya se-Quran,
Di luar Quran bukan Firman-Nya.
Aku percaya pd kemampuan dengar.
Kemampuan Muhamad hanya sekitab,
Yg sama dgn kemampuan Penghafal,
Yg ini belum jelas, Mas!
Siapa mereka pada mulanya,
Jika pada mulanya adalah tulisan?
Salam Damai!
Stain Remover
27 November 2011
@Maren Kitatau
Jadi ini beda kita yg lebih jauh lagi:
Bagi Islam, pada mulanya adalah Tulisan.
Bagi Kristen, pada mulanya adalah Firman.
Tulisan berkenaan dgn pena, mata, baca, suara, telinga, gambar.
Firman berkenaan dgn suara, telinga, gambar.
Ini rekaan ku saja, Mas!
Jawab—-> bukan,
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadiid : 3)
—–
@Maren Kitatau
Allah SWT -> Jibril -> Muhammad
Ketiganya hrs punya kuasa menjamin yg setara
Kurasa harus begitu, kan Mas Stain.
Muhammad -> Sahabat -> Penghafal
Semuanya juga hrs punya kuasa menjamin yg sama.
Maka, jaminan kuasa Allah SWT tak beda dari Penghafal itu.
Dan kita-kita …
Apa boleh begitu kesimpulan sementara kita.
Jawab—-> Tidak,
Karena selain ALLAH adalah makhluk (ciptaan)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (Ali Imran : 2)
—–
@Maren Kitatau
Jadi benar, mulanya adalah tulisan.
Setelah tulisan barulah Dia berfirman,
Dan, firman itulah yg menjadi tulisan lagi,
Quran.
Tentu bukan hanya sekitab itu tulisan-Nya.
Aku ragu jika tulisan itu hanya se-Quran,
Di luar Quran bukan Firman-Nya.
Aku percaya pd kemampuan dengar.
Kemampuan Muhamad hanya sekitab,
Yg sama dgn kemampuan Penghafal,
Yg ini belum jelas, Mas!
Siapa mereka pada mulanya,
Jika pada mulanya adalah tulisan?
Jawab—-> Salah,
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadiid : 3)
kemudian :
Demi kalam dan apa yang mereka tulis, (Al-Qalam : 1)
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.(Al ‘Alaq : 4)
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
Maren Kitatau
27 November 2011
Ini tanggapan lanjutannya
Stain Remover
26 November 2011
Bagi Islam, Tulisan itu harus di kuasai,
Bagi Kriten, Firman itu harus berbuah,
Buah-buah roh.
Demikian juga seharusnya Muhammad,
Menanggung kepandaian sobatnya membaca,
Dan sobatnya yg menanggung para Peghafal itu.
Ini cara utk menanggung kepandaian membaca.
Dimulai dgn membeo dan diakhiri dgn menguasainya.
Tapi, apa menguasai itu standar minimum sebelum aplikasi?
Ternyata tak cukup hanya menguasai baca saja,
Karena masih ada kemudian penjelasannya.
Dan, penjelasan itu tanggungan “Kami”.
Pls Mas Stain!
Ini pemahamanku yg minim:
Bila “penjelasan bacaan itu adalah sesungguhnya tanggungan Kami”, maka mereka, yaitu rentetan mulai dari Muhammad hingga Penghafal, tak kudu mengerti penjelasan bacaan itu. Bila Muhammad hrs mengerti penjelasan bacaan itu, maka Muhammad itu termasuk ke dalam “Kami” (Allah SWT, Jibril, Muhammad). Dan, barang siapa saja yg mengerti penjelasannya maka mereka itu adalah “Kami”, karena siapa mengerti dia menanggung pengertian itu.
Salam Damai!
Stain Remover
27 November 2011
@Maren Kitatau
Al-Qiyaamah : 16-19
16. Janganlah kamu (Muhammad)gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
—–
1. ALLAH -> Firman
2. Malaikat Jibril -> Pembawa Firman
3. Nabi Muhammad -> Penerima + Penghafal + Pembaca + Pelaksana Firman
Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, (Al-A’laa – Ayat: 6)
4. Umat -> Pelaksana firman diantara mereka ada yang menghafal dan menulis
—–
Nabi Muhammad menerima firman lengkap dengan penjelasannya, Penjelasan dari firman itulah yang disebut hadist, karena penjelasan itu berasal dari ucapan Nabi.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm : 4)
Firman yang telah diterima Nabi berikut penjelasannya, langsung dibacakan kepada umatnya.
hasil dari umat itu, berupa :
- Tulisan
- Hafalan
Semua yang terlibat dalam proses diatas, KECUALI ALLAH SWT akan hilang karena mereka adalah makhluk.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah : 255)
—–
Maren Kitatau
29 November 2011
Stain Remover
27 November 2011
Al-Qiyaamah : 16-19
16. Janganlah kamu (Muhammad)gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Nabi Muhammad menerima firman lengkap dengan penjelasannya, Penjelasan dari firman itulah yang disebut hadist, karena penjelasan itu berasal dari ucapan Nabi.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm : 4)
—
Ini sudah kupertanyakan di tadi; Ternyata:
Muhammad turut menanggung penjelasanya.
Pd. 19. tanggungan “Kami” lah penjelasannya.
Salam Damai!
Maren Kitatau
28 November 2011
Responku utk:
Stain Remover
26 November 2011
Artinya,
Tulisan itu telah ada sebelum Dia berfirman,
Dan tulisan itu juga termasuk adalah Quran?
Ya!
Dia bersama tulisanNya,
Yg dahulu, sekarang dan kemudian.
Ternyata Allah berfirman kepada qalam tersebut.
Artinya, sebelum ada tulisan telah ada firman.
Gimana Mas Stain!
Artinya, semua laluan kelakuan kita pun telah final terminalnya?
Oh, jadi ada banyak takdir yg telah ditetapkan,
Tapi tidak pd semua orang takdir itu ditetapkan.
Ini mirip dgn ragam panggilan Allah kpd ragam Nabi:
Ada yg dipanggil utk melakukan tugas khusus,
Ada yg terpanggil berdasarkan nazar,
Ada yg direhabilitasi terlebih dahulu, dll.
Terima kasih, Bro atas salamnya.
Jarang-jarang aku dpt salam.
Salam Damai!
Stain Remover
28 November 2011
@Maren Kitatau
Tulisan itu telah ada sebelum Dia berfirman,
Dan tulisan itu juga termasuk adalah Quran?
Dia bersama tulisanNya,
Yg dahulu, sekarang dan kemudian.
Ternyata Allah berfirman kepada qalam tersebut.
Artinya, sebelum ada tulisan telah ada firman.
Gimana Mas Stain!
Jawab—-> jangan lupa urut-urutannya : ALLAH -> firman
—
@Maren Kitatau
Artinya, semua laluan kelakuan kita pun telah final terminalnya?
Oh, jadi ada banyak takdir yg telah ditetapkan,
Tapi tidak pd semua orang takdir itu ditetapkan.
Ini mirip dgn ragam panggilan Allah kpd ragam Nabi:
Ada yg dipanggil utk melakukan tugas khusus,
Ada yg terpanggil berdasarkan nazar,
Ada yg direhabilitasi terlebih dahulu, dll.
Jawab—-> Bahkan seorang Ilmuan terkemuka Stephen William Hawking, berani megatakan :
Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking “telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.
Jadi dalam pandangan Hawking takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak diciptakannya.
—
MEMAHAMI TAKDIR
Ketidaktahuan kita akan isi takdir Allah SWT, adalah merupakan hal yang pasti. Tidak ada satupun di antara kita mengetahui apa yang ditakdirkan oleh Allah kepada kita, kecuali kita sudah melewatinya. Kita sebagai manusia diwajibkan untuk mengerahkan seluruh daya upaya semaksimal mungkin.
Ketika Umar ibn al-Khattab berada di Syam dan bermaksud berkunjung ke Syiria dan Palestina, namun terjadi wabah penyakit, Umar membatalkan kunjungan tersebut. Ketika itu seseorang bertanya: “Apakah anda lari dari takdir Tuhan ?” lalu umar menjawab “Saya lari dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain”.
Dan ketidaktahuan itulah (tentang takdir), yang membuat kita selalu berusaha.
—
Terima kasih, Bro atas salamnya.
Maren Kitatau
2 Desember 2011
Stain Remover
28 November 2011
Apakah mereka harus berurut?
Jadi, Allah dan Firmannya adalah satu!
Allah SWT dan Tulisannya yg ada urutunnya.
Begitu kali, Mas!
Salam Damai!
Maren Kitatau
29 November 2011
Ini responku utk
Stain Remover
27 November 2011
Mana-mana yg bukan tolong jelaskan, Bro!
Bagi Kristen, pd mulanya adalah Firman,
Apa bagi Islam, pd mulanya bukan Tulisan?
Atau kau taksetuju dgn ttg Tulisan:
Tulisan itu adalah pasif, Firman itu aktif
Tulisan itu lengket, Firman abadi berfibrasi
Ya,
Allah memang mengetahui segala sesuatu.
Pada mulanya, pengetahuan itu sudah tertulis?
Atau mana duluan, Allah atau Tulisan atau bareng.
Tdak … ? Tidak ada kuasa?
Artinya, Quran yg asli hanya ada di Lauh Mahfudz.
Yg asli bukan yg dihafal-hafal bukan yg dibaca-baca?
Tapi kita belum bicara soal sembah-menyembah.
Kita masih bicara soal kuasa menjamini wahyu itu.
Mungkin bagus kalau kau bicara soal proses turunnya.
Atau, apakah arti “diturunkan” itu sama dgn diciptakan?
Tapi bila “diturunkan” itu berarti sama dgn diciptakan.
Maka Allah menciptakan wahyu ke dalam Muhammad
Dan Muhammad ke dalam Sahabat dst ke dlm Penghafal
Lalu ini menjadi bicara kuasa mencipta Tulisan/bacaan.
Padahal yg kutanya adalah kuasa menjamini Quran itu.
Mana-mana yg salah!
Maksudmu, pada mulanya bukan Tulisan?
Aku bicara tulisan, firman, pendengaran dll
Pls perbaiki atau jelaskan kesalahannya!
Loh koq!
Dia lagi Dia lagi, ya Bro!
“Kalam” adalah apa yg Dia tulis,
“dan apa yg mereka tulis”
Mereka di sini rentetan yg tadi, bukan?
Muhammad-Sahabat-dan Penghafal.
Kalam ada di dalam lauh mahfudz
Yg mereka tulis ada di dalam Quran
Quran adalah bagian dari lauh mahfudz?
Sabda ini sabda Jibril di dlm Muhammad,
Atau sabda Allah di dalam Muhamad,
Atau sabda Muhammad sendirian?
-
Yg tampak jelas, ini adalah tulisan Abu Daud.
Jelas juga tampak: “Allah berfirman” sebelum Tulis.
Jadi jelas juga bagiku, pada mulanya adalah Firman.
-
Tapi gimana Mas Stain!
Di situ seolah Muhammad berkuasa menjelaskannya.
Apakah Muhammad termasuk “Kami” di dlm ayat 19
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Sorry bila aku melelahkanmu.
Perbedaan itu yg membuat kita berpikir.
Terus berpikir tanpa henti ke kemuliaan.
Salam Damai Bro!
Stain Remover
29 November 2011
Mana-mana yg bukan tolong jelaskan, Bro!
Bagi Kristen, pd mulanya adalah Firman,
Apa bagi Islam, pd mulanya bukan Tulisan?
Atau kau taksetuju dgn ttg Tulisan:
Tulisan itu adalah pasif, Firman itu aktif
Tulisan itu lengket, Firman abadi berfibrasi
Jawab—-> pernyataan anda yang langsung menyatakan bahwa “Bagi Islam, pada mulanya adalah Tulisan.”
makanya saya berulangkali menyertakan ayat, agar anda mengerti :
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadiid : 3)
bagaimana bisa ada tulisan, bila tidak ada yang menulis.
bagaimana bisa ada yang menulis bila tidak ada alat tulis.
bagaimana bisa ada alat tulis bila tidak ada yang membuatnya.
makanya saya sertakan hadist :
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
—
Jadi kesimpulannya adalah :
ALLAH yang berfirman
dibawah ini arti firman menurut kamus :
kata (perintah) Tuhan; sabda: segala — Tuhan hendaklah dipatuhi; — Ilahi termaktub dl kitab suci;
ber·fir·man v berkata; bersabda; memerintahkan: Allah ~ dl surah Albaqarah, ayat 183 tt kewajiban berpuasa;
di·fir·man·kan v disabdakan; diperintahkan: ayat-ayat seruan mendirikan salat
—
Apa anda sudah mengerti ?
Maren Kitatau
29 November 2011
Ya!
Lanjut, Mas!
Maren Kitatau
30 November 2011
Aku sudah mengerti, Mas Stain!
Si Iblis pun sudah ditulis sebelum jadi.
Lanjutkanlah dgn pertanyaanku lainnya.
Salam Damai!
Maren Kitatau
2 Desember 2011
@Stain Remover
Your move now.
Peace!
Stain Remover
2 Desember 2011
Pertanyaanmu, apalagi ?
Maren Kitatau
1 Desember 2011
Respon utk
Artikel Wedul
Posted 28 June 2011
Kalau soal perbedaan aliran itu kodrat.
Tak satu pun di dunia ini ada yg sama.
Segalanya satu pd satu waktu satu tempat.
Tapi aku setuju dgn pemikiranmu Kang Wedul.
Ada dua kontras aliran berpikir. Satu berfikir literatif dan satu lagi berfikir figuratif. Yg literatif itu berpikir berputar bagai aliran pusaran vortex ke dalam text. Yg figuratif itu berpikir berputar bagai aliran cylon yg nyembul ke luar meluas dari text.
Jika kita hanya memahami kebenaran itu lengket pd text, mengartikan secara literatif, maka bisa jadi ayat-ayat brutal menjadi sakral. Gelap lagi lah, kan? Tapi jika kita menyerap dan menghidupkan ayat-ayat itu secara figuratif, maka toleransi pemikiran semakin meluas dan semakin mencerahkan. Memang beda fikih akan lebih banyak lagi tentu, mungkin akan lebih liberal. Eg.: 1 Syawal bisa ada dua atau lebih. Kurasa itu bukan soal, toh keutamaan kita adalah kemuliaan hidup individu, bukan kemenangan kelompok agama. Dan ke Surga pun hrs sendiri-sendiri, nggak boleh boncengan. Tul tak tuh ta’iyeuh bah!
-
Itu menurutku!
-
Salam Damai!
Stain Remover
2 Desember 2011
Setiap manusia itu memang berbeda, tergantung pemahaman mereka terhadap masalah yang dihadapinya.
Maren Kitatau
2 Desember 2011
Tapi menurutku perbedaan itu tidak tergantung.
Perbedaan itu adalah suatu keniscayaan.
Perbedaa itu lah yg membuat kita berpikir.
Salam Damai!
Maren Kitatau
20 Januari 2012
“MEMAHAMI CARA BERFIKIR AL-QURAN”
Cara kita berfikir sudah pasti berbeda-beda.
Kureka bagai dua aliran: vortext dan cyclon
Dan ada dua sasaran: literatif dan figuratif
Perbedaan bisa karena beda alam pikirnya.
Kalau alamnya berpasir pikiran pun berpasir
Kalau alamnya berair pikiran pun berair, hh.
Perbedaan bisa juga karena beda alat input pikirnya.
Yg dominan mengandalkan mata, ialah spt org gaguk
Yg dominan mengandalkan telinga, ialah spt org buta
Sekarang tinggal kelompokkan aja alumni mereka-mereka.
Mungkin bisa paham yg mana cara berfikir Al Quran!
Semoga paham!
Salam Damai!
Maren Kitatau
22 Januari 2012
@Sain
Where are you?
Did I staining you?
I am sorry if you say, I did!
Peace!
Maren Kitatau
2 Desember 2011
Respon utk:
Stain Remover
2 Desember 2011
Banyak pertanyaanku yg mungkin sudah kau maklumi semua.
Banyak pernyataanku yg mungkin juga sudah kau maklumi semua.
Jika hrs diulang, ya, ada sembilan poin yg bisa kupertajam sedemikian:
1. Pada mulanya adalah Firman. Itu batas terjauh kita mengenal Allah, karna kalo Dia tak berfirman maka Dia tak kita kenal, dan memang semua yg jadi adalah karena Firman-Nya juga. Jadi, tak ada guna kita mengenal allah yg diam atau tak bersama Firman-Nya.
2. Yg mula-mula diciptakan Allah SWT adalah Tulisan. Segala sesuatu telah diulis-Nya di Lauh Mahfudz. Iblis dan dipan-dipan pun telah dituliskan sebelum beroperasi atau dioperasikan.
3. Tulisan itu lengket atau telah given. Sebagian kecil tulisan itu diturunkan menjadi Quran. Ku katakan sebagian kecil, karena keterbatasan pendengaran atau memori ingat Muhammad atau pun karena keterbatasan tinta (yg walau dua laut menjadi tinta pun tak cukup utk menuliskan semuanya di kitab-kitab)
4. Quran yg asli tentu ada di Lauh Mahfudz yg berisikan bukan hanya Quran tapi juga Takdir dari segala umat dan ciptaan lainnya dgn segala permasalahannya.
5. Quran salinan yg ada pd kita adalah tulisan dari rentetan memori para Penghafal yg berkuasa menjamini bahwa hafalan itu telah sesuai dgn aslinya yg dari Sahabat Nabi.
6. Quran adalah bacaan hafalan yg hrs dikuasai cara bacanya oleh umat. Bacanya jangan dgn tergesa-gesa, tapi hrs pelan-pelan dan berfibrasi.
7. Yg mungkin lebih penting dari bacaan itu adalah penjelasannya. Tapi penjelasan bacaan itu adalah tanggungan “Kami” (19).
8. “Kami” itu bisa jadi adalah Muhammad dan Para penulis hadisnya,
9. Atau “Kami” itu bisa juga Allah SWT dan Rosulnya dan Jibrilnya tentu.
Segitu dulu yg bisa kusimpulkan sejauh ini.
Pls koreksi mana-mana yg salah, Mas Stain.
Salam Damai!
Stain Remover
2 Desember 2011
@Maren Kitatau
….Yg mungkin lebih penting dari bacaan itu adalah penjelasannya. Tapi penjelasan bacaan itu adalah tanggungan “Kami” (19)….
Jawab—-> Kami juga bisa berarti ALLAH SWT, karena DIA tidak berkesudahan.
bagaimana caranya ?
salah satunya dengan memberikan ilham kepada para ulama yang dikehendakinya. Karena Ilham memang ditujukan kepada manusia biasa :
Dan (ingatlah), ketika AKU ilhamkan kepada pengikut ‘Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-KU dan kepada rasul-KU”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”. (Al-Maidah : 111)
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (Al-Qashash : 7)
—–
Salam Damai!
Maren Kitatau
2 Desember 2011
Tanks Mas Stain!
Kesimpulan kita sementara ini menjadi 10 poin:
8. “Kami” itu bisa jadi adalah Muhammad dan Para penulis hadisnya,
9. Atau “Kami” itu bisa juga Allah SWT dan Rosulnya dan Jibrilnya tentu.
10. Kami juga bisa berarti ALLAH SWT, karena DIA tidak berkesudahan.
Salam Dami!
Maren Kitatau
4 Desember 2011
Ralat: Salam Dami
Seharusnya: Salam Damai!
Sorry Mas Stain.
Wawan
16 Desember 2011
Kesimpulan tambahan buat anda:
Di dalam tata bahasa arab,kata ‘kami’ itu kerap di gunakan sebagai pengganti “Aku”.Sebagai contoh dalam pidato kita sering mendengar “kami ucapkan ribuan terimaksih kepada saudara bla bla bla.Kata “kami” digunakan oleh MC untuk menunjuk kepada dirinya sendiri.
Allah-Djibril-Muhammad tidaklah sama dan tidak pula sehakikat.Berbeda dengan faham trinitas.Allah adalah tuhan semesta alam,Djibril(ruhul kuddus)adalah malaikat yang tugasnya menyampaikan wahyu,Muhammad adalah Nabi yang menerima wahyu untuk selanjutnya di beritakan kepada manusia.
Maren Kitatau
17 Desember 2011
Terima kasih pemahamannya, Mas Wan!
Aku pun selalu mengakhiri surat dgn kata “Hormat kami”.
Lalu … set-set-set … tanda tangan seorang diri saja.
Salam Damai!
Maren Kitatau
3 Desember 2011
Respon utk:
Stain Remover
28 November 2011
Yg nyata tampak lewat-lewat adalah kematian.
Itulah takdir tubuh yg ditakdirkan sementara,
Yg dari benua bawah ke bawah lah.
Yg tampak maya lewat-lewat adalah keabadian.
Itulah takdir ruh yg ditakdirkan selamanya,
Yg dari benua atas ke atas.
Yg tampak bimbang adalah kebebasan
Ini bukan takdir. Ini pilihan ke kesempurnaan
Sempurna menjadi anak Setan atau jadi anak Tuhan
Bebas!
Mengerahkan daya untuk …
Utk menghidari takdir ke takdir yg lain?
Utk menerima takdir dgn apa adanya?
Atau, kerahkanlah daya utk hal-hal mulia!
—
Berusaha mencari takdir yg terbaik?
Ah!
Kemana pergi takdir menanti
Menghindar mati mecari mati keren?
Salam Damai!
Stain Remover
4 Desember 2011
@Maren Kitatau
Yg nyata tampak lewat-lewat adalah kematian.
Itulah takdir tubuh yg ditakdirkan sementara,
Yg dari benua bawah ke bawah lah.
Yg tampak maya lewat-lewat adalah keabadian.
Itulah takdir ruh yg ditakdirkan selamanya,
Yg dari benua atas ke atas.
Yg tampak bimbang adalah kebebasan
Ini bukan takdir. Ini pilihan ke kesempurnaan
Sempurna menjadi anak Setan atau jadi anak Tuhan
Bebas!
—–
Tidak ada kepastian selain kematian
Takdirku sudah ditetapkan dalam tulisan
Menjalani takdir itulah arti kehidupan
Tiada keabadian dalam kefanaan jasad
Ruh kekekalan akan pergi dan jasad menjadi mayat
Hanya Tuhan-lah satu-satunya yang dekat
Bimbang tentulah bukan keyakinan
keyakinan hakiki haruslah mampu lulus dari ujian
Karena Keyakinan dan kebenaran tidak terpisahkan
—–
@Maren Kitatau
Mengerahkan daya untuk …
Utk menghidari takdir ke takdir yg lain?
Utk menerima takdir dgn apa adanya?
Atau, kerahkanlah daya utk hal-hal mulia!
—–
Takdir telah ditetapkan pada setiap ciptaan Ilahi
Takdir adalah misteri tapi bukan ilusi
Takdir kamu tentulah bukan takdir kami
Takdir kami semua milik Yang Maha Mengetahui
—–
@Maren Kitatau
Berusaha mencari takdir yg terbaik?
Ah!
Kemana pergi takdir menanti
Menghindar mati mecari mati keren?
Salam Damai!
—–
Takdir tak pernah pergi
untuk apa lagi mencari ?
Maren Kitatau
4 Desember 2011
Takdir itu menanti.
“Saya lari dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain”.
Kata Umar bin Khatab seraya mencari takdirnya yg asli.
Salam Damai!
Stain Remover
4 Desember 2011
Kata Umar : “Saya lari dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain”
itulah takdir Umar sesungguhnya karena dia telah melewatinya
Ketidaktahuannya tentang isi takdir membuatnya selalu mencari yang terbaik
Maren Kitatau
4 Desember 2011
Aku pecaya dua takdir:
Takdir roh yg adalah penurut dan kuat
Takdir tubuh yg adalah penuntut dan lemah.
Jiwa bukanlah takdir, melainkan kebebasan memilih:
Memilih memberontak terhadap Allah pencipta manusia
Atau, memilih memperbaiki hubungan dgn Allah yg Mulia.
Mungkin takdirmu cuman satu, Mas Stain,
Sehingga tak ada pilihan lain utk dipegang
Tapi, apakah takdir-mu itu perlu dikesumati?
Salam Damai!
Stain Remover
5 Desember 2011
@Maren Kitatau
Aku pecaya dua takdir:
Takdir roh yg adalah penurut dan kuat
Takdir tubuh yg adalah penuntut dan lemah.
Jiwa bukanlah takdir, melainkan kebebasan memilih:
Memilih memberontak terhadap Allah pencipta manusia
Atau, memilih memperbaiki hubungan dgn Allah yg Mulia.
Mungkin takdirmu cuman satu, Mas Stain,
Sehingga tak ada pilihan lain utk dipegang
Tapi, apakah takdir-mu itu perlu dikesumati?
Salam Damai!
—–
Aku tak tahu sama sekali tentang ketetapan Tuhan
Aku buta meski aku berpegang pada tongkat sebagai pedoman
Kadang aku terperosok kebawah sedalam galian selokan
Kadang aku tersanjung keatas setinggi tutupan gundukan
Tapi aku berusaha untuk bangkit dan kembali berjalan
Itulah kehidupan…
Maren Kitatau
17 Desember 2011
Hi, Mas Stain!
Semoga sehat dan baik kini.
Seperti aku juga walafiat adanya.
Ya! Cukupkanlah ketetapan Tuhan itu pd soal mati dan bangkit kembali. Takdir itu tak perlu dikesumati, karna takdir itu bukan jalan keluar bagi kita yg mengutamakan kemuliaan hidup. Kemuliaan itulah kehendak Tuhan yg juga mulia adanya.
Hal nyata adalah duniawi, hal maya adalah hal rohani.
Kita adalah si buta yg berpegang pd tongkat illahi.
Kadang satu gatal digaruk dgn lima jari.
Ya! Itulah kehidupan,
Kehidupan menuju kemuliaan,
Yg sulit, ya, mustahil, tidak.
Salam Damai Stain!
Maren Kitatau
24 Desember 2011
@Stain
Kata Umar :
“Saya lari dari takdir Tuhan
kepada takdir-Nya yang lain”
—
Jiwa bebas memlih lari.
Jiwa bebas memilih diam
Jiwa itu adalah kebebasan
Kebenasan ke kesempurnaan:
Sempurna spt Muhammad,
Atau sempurna spt Yesus.
Salam Damai!
Stain Remover
24 Desember 2011
Kesempurnaan hanya memerlukan waktu
Nilai dari kesempurnaan adalah hasil pemanfaatan waktu
Maren Kitatau
25 Desember 2011
… dan teladan.
… mengerjakan keteladanan.
Kan?
Stain Remover
25 Desember 2011
Yang rusak dan binasa-pun telah sempurna dari manfaat dan keberadaannya. Itulah makna sempurna yaitu perjalanan mencapai titik akhir.
Dan berjalan itu, bisa maju ataupun mundur….
Maren Kitatau
26 Desember 2011
Stain:
Yang rusak dan binasa-pun telah sempurna dari manfaat dan keberadaannya.(/em> Itulah makna sempurna yaitu perjalanan mencapai titik akhir.
—
Kita tidak sedang membicarakan kesempurnaan mereka atau keberadaanya, tapi diri yg terus-terus harus menyempurna. Sempurna seperti anak-anak Tuhan atau sempurna seperti anak-anak Setan.
Salam Damai!
Stain Remover
26 Desember 2011
@Maren Kitatau
Kita tidak sedang membicarakan kesempurnaan mereka atau keberadaanya, tapi diri yg terus-terus harus menyempurna. Sempurna seperti anak-anak Tuhan atau sempurna seperti anak-anak Setan.
Dan seperti kata anda diatas-lah yang saya maksud.
berjalan mundur = celaka = Syetan + Neraka
berjalan maju = selamat = Tuhan = Syurga
Maren Kitatau
26 Desember 2011
Ooh! Begitu toh pengertiannya.
Pengertian berjalan mundur, Neraka.
Pengertian berjalan maju, Syurga.
Ya! Setuju!
Mundur kemasa lalu adalah kedangingan.
Maju ke masa depan adalah kerohanian.
Pada masa kini adalah refleksi kejiwaan.
Salam Damai!
Maren Kitatau
31 Desember 2011
Jadi betullah,
Tak ada gunanya kita meluka-lukai borok,
Atau menyalah-benarkan riwayat-riwayat,
Karena kemulian hidup ada di masa depan.
Salam Damai!
Maren Kitatau
10 Januari 2012
Stain Remover
4 Desember 2011
Takdir telah ditetapkan pada setiap ciptaan Ilahi
Takdir adalah misteri tapi bukan ilusi
Takdir kamu tentulah bukan takdir kami
Takdir kami semua milik Yang Maha Mengetahui
—
Apakah takdir itu memang perlu diimani, atau hrs?
Apa perlunya dan apa resiko jika tak mengimani takdir
Pls Mas Stain, hubungkan dgn tujuan kemuliaan kehidupan!
Salam Damai!
Stain Remover
10 Januari 2012
@Maren Kitatau
Takdir adalah salah satu rukun iman, dalam Islam : Iman kepada Qada dan Qadar.
RUKUN IMAN
1. Iman kepada Allah :
Patuh dan taat kepada ajaran dan hukum-hukum Allah.
2. Iman kepada malaikat-malaikat Allah :
Mengetahui dan percaya akan keberadaan kekuasaan dan kebesaran Allah di alam semesta.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah :
Melaksanakan ajaran kitab-kitab Allah hanif. Salah satu kitab Allah adalah Al-Qur’an.
Al-Qur’an memuat tiga kitab Allah sebelumnya, yaitu kitab-kitab Zabur, Taurat, dan Injil.
4. Iman kepada rasul-rasul Allah.
Mencontoh perjuangan para Nabi dan Rasul dalam menyebarkan dan menjalankan kebenaran yang disertai kesabaran.
5. Iman kepada hari kiamat.
Faham bahwa setiap perbuatan akan ada pembalasan.
6. Iman kepada Qada dan Qadar.
Paham pada keputusan serta kepastian yang ditentukan Allah pada alam semesta.
Maren Kitatau
12 Januari 2012
Stain:
Takdir = Paham pada keputusan serta kepastian yang ditentukan Allah pada alam semesta.
—
Maren::
Kalau begitu semua kita sudah hrs paham
Bahwa kita telah ditentukan berbeda-beda
Dan perbedaan itu akan harus semakin pasti.
Dgn begitu kita tau mana yg mulia mana imitasi,
Kemuliaan bagi kami adalah menjadi anak-anak Allah.
Kemuliaan bagi kalian adalah menjadi hamba Allah.
Gimana Stain!
Salam Damai!
Maren Kitatau
17 Januari 2012
@Stain
Your move!
Bois
25 Januari 2012
Hi Maren!
Tampaknya kau kangen dengan Stain ya?
Iwan
28 Januari 2012
Jadi anak apa dulu neh.
Anak kandung(gak mungkin)
Anak tiri (huah)
Anak buah barang kali, ABK (anak buah kapal/kelasi).
Iwan
26 Januari 2012
Masih belum jelas juga.
Maren Kitatau
26 Januari 2012
@Bois
Ya! Aku ingin belajar dari Mas Stain Remover atawa Wedul dan cs-nya ttg bagaimana menjelaskan Cara Berpikir Al Quran utk mempersembahkan kemuliaan hidup kpd Allah Yg Maha Mulia. Apakah pemikiran2 kita dan tulisan2 kita ini pun telah tertulis di Lauh Mahfudz?
Perlu kejelasan!
Salam Damai!
Bois
27 Januari 2012
@ Maren
Salam Damai Maren…
Betul semua telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Tugas kita hanya menentukan pilihan saja, because life is a game.
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
27 Januari 2012
Gimana Stain?
Bois setuju, tujuan kita beda dan telah ditetapkan di Lauh Mahfudz: Kami hrs menjadi anak-anak Allah, menjadi satu dgn Kristus. kamu hrs menjadi hamba-hambaNya saja semaksimal teladan Nabi Muhammad.
If these are games to win,
Am I staining you, Stain?
Salam Damai!
Bois
28 Januari 2012
Hi, Maren!
“Bois setuju, tujuan kita beda dan telah ditetapkan di Lauh Mahfudz: Kami hrs menjadi anak-anak Allah, menjadi satu dgn Kristus. kamu hrs menjadi hamba-hambaNya saja semaksimal teladan Nabi Muhammad.”
Ketahuilah Maren Saudaraku… Tujuan Maren yang berbeda sudah ditentukan, dan tujuan Maren yang sama pun sudah ditentukan. Maren bebas memilih, mau berbeda tujuan atau sama tujuan. Begitupun Maren yang kristen, Maren yang Islam, Maren yang atheis… semua sudah ditentukan. Maren tinggal memilih, mau Maren yang Kristen, Islam, atau atheis sekalipun. ^_^
Dan perlu Maren ketahui pula, bahwa kemenangan itu adalah, segala apa yang kita pilih harus sesuai dengan keinginan Allah, bukan keinginan pribadi kita.
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
2 Februari 2012
Maren tinggal memilih,
mau Maren yang Kristen,
Islam, atau atheis sekalipun. ^_^
—
Aku sudah memilih, Bro!
Mas Stain keknya belum.
La, kau sendiri gimana!
Dan perlu Maren ketahui pula, bahwa kemenangan itu
adalah segala apa yang kita pilih harus sesuai dengan
keinginan Allah, bukan keinginan pribadi kita.
—
Ya, betul, Bro!
Kemenangan itu bukan lagi dari perang duniawi,
Kemenangan itu dari perang rohani
Terhadap keinginan daging berlebih.
Allah adalah mulia.
Keharusan-Nya adalah kemuliaan.
Hanya kemuliaan diinginkan dari kita.
Perangilah ketidak muliaan diri,
Mungkin itu lebih perang sejati,
Perang rohani itu.
Salam Damai Bro!
Bois
3 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
Masa kau tidak tahu apa yang kupilih Bro…
Yuk kita saling bergandengan tangan, berlomba-lomba dalam kebaikan menurut Allah, bukan menurut keinginan pribadi kita.
Andai engkau bisa menjelaskan tentang perang duniawi dan perang rohani dengan lebih jelas dan rinci, juga mudah dipahami maknanya, mungkin aku dan teman-teman bisa mengambil banyak pelajaran darimu.
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
3 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
-
Wah!
Jarang-jarang aku dapat salam,
Terlebih lagi salam damai.
Bravo! Damai itu indah,
—
Masa kau tidak tahu apa yang kupilih Bro…
-
Aku sudah memilih, Bro!
Mas Stain keknya belum.
La, kau sendiri gimana!
—
Yuk kita saling bergandengan tangan,
berlomba dalam kebaikan menurut Allah,
bukan menurut keinginan pribadi kita.
-
Dengan cinta.kita berlomba!
Inilah sesungguhnya ajakan beragama.
Berlomba kpd kebaikan menurut citra Allah,
Bukan berlomba memadamkan semangat cinta.
—
Andai engkau bisa menjelaskan tentang perang duniawi
—
Perang duniawi sudah jelas kitatau:
Kalah jadi abu menang jadi arang,
Kayu bakar jadi habis, ya kan?
-
dan perang rohani dengan lebih jelas dan rinci, juga mudah dipahami maknanya, mungkin aku dan teman-teman bisa mengambil banyak pelajaran darimu.
-
Nah, perang rohani,
Kita masih sama belajar memahami roh.
Mungkin kau punya argumen mengenai roh.
Sebagian teman memahaminya sama dgn jiwa.
Gimanamenurutmu, Bro!
Yang jelas,
Utamanya perang adalah rebutan kebutuhan.
Lalu kebutuhan roh apa perlu rebutan; Kan aneh?
Jadi, kita hrs sama belajar roh dan konsumsinya apa.
Mari kita ancer-ancer, Bro!
Perang itu dan rohani itu.
Salam Damai Bro!
Bois
4 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
===
Perang duniawi sudah jelas kitatau:
Kalah jadi abu menang jadi arang,
Kayu bakar jadi habis, ya kan?
===
O, itu maksud perang duniawi menurutmu Bro… OK no problemo….
===
Nah, perang rohani,
Kita masih sama belajar memahami roh.
Mungkin kau punya argumen mengenai roh.
Sebagian teman memahaminya sama dgn jiwa.
Gimanamenurutmu, Bro!
===
Jasad kita adalah avatar dari roh kita, dan roh itu sendiri ibarat manusia yang sedang bermain game online. Gimana menurutmu bro? Apa kau tahu apa yang dibutuhkan manusia (roh) dalam memainkan game online agar ia bisa menang?
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
4 Februari 2012
Jasad kita adalah avatar dari roh kita,
-
Bagus juga argumenmu, Bro.
Lalu bagaimana dgn jiwa?
Kali ada yg bagus darimu.
——-
.
dan roh itu sendiri ibarat manusia yang sedang bermain game online.
-
Wah, bisa jadi begitu, ya Bro.
Jadi roh lah yg penuh inisiatif.
Avatar meragakannya.
——-
.
Gimana menurutmu bro?
-
Masih mikir, Bro.
Pengetahuan kita masih terbatas.
Bahasa masih terus berkembang,
Kata menyembul gambar berubah
——-
.
Apa kau tahu apa yang dibutuhkan manusia (roh)
dalam memainkan game online agar ia bisa menang?
-
Jika manusia itu daging dan roh
Kebutuhannya cairan dan gasan.
Aku pikir, padatan konsumsi jiwa.
Utk menang,
Mungkin kita hrs memenangkan orang,
Karena kekalahan membuat kekecewaan..
——-
.
Mas Stain kemana, ya!
Aku rindu komenannya,
Yg kerap bernomor-nomor ajimat..
Salam Damai Bro!
Bois
8 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
Sori Bro kelamaan. Mikir dolo soale ^_^
=========================================================================
Lalu bagaimana dgn jiwa?
Kali ada yg bagus darimu.
=========================================================================
Jiwa adalah avatar halus dari roh yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu, akal, ego dan nurani. Ketiganya berinteraksi dan menciptakan berbagai macam perasaan dan emosi, juga berbagai gagasan dan keinginan, kemudian akal memutuskan untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan.
Kesimpulannya roh itu memiliki dua avatar yaitu, jiwa dan jasad. Saat roh memasuki dunia permainan (“plug” istilah di film the matrix), maka roh akan mengenakan jiwa dan jasad. Karena itulah roh menjadi lupa, ia lupa kalau ia pernah mengakui (naik saksi), bahwa Tuhan-nya ialah Allah, yaitu saat di alam roh. Bahkan ia tidak tahu kalau sebenarnya ia sangat cerdas lantaran rohnya pun memiliki jiwa (jiwa yang sebenarnya, bukan avatar jiwa yang sedang diuji akalnya). Avatar jiwa bisa diumpamakan seperti AI “artificial intelligent” kecerdasan buatan yang sedang diuji, sedangkan jiwa yang sebenarnya adalah yang sewaktu di alam roh mengakui kalau Allah adalah Tuhannya. Sesungguhnya permainan memilih takdir ini adalah untuk menguji akal manusia, sebagai bukti kepada para malaikat yang meragukan dan jin yang tidak percaya, kalau manusia itu memang pantas menyandang gelar khalifah, dan pantas untuk dihormati dengan bersujud kepadanya. Dan karena itu pula, aku tidak meyakini kalau Allah ikut bermain (sebagai player) di dalam permainan ini.
Begitulah pengertianku tentang jiwa Bro… mengenai kebenarannya hanya Allah yang tahu.
O ya, agar pemahamanmu lebih lengkap, maka aku salinkan klasifikasi fakultas jiwa yang lebih jelas menurut al-Farabi dan Ibn Sina.
Berdasarkan dalam beberapa penjelasannya tentang daya jiwa, maka dapat disimpulkan bahwa fakultas jiwa terbagi pada tiga yaitu, jiwa nabati, jiwa hewani dan jiwa rasional.
1. Jiwa tumbuh-tumbuhan (an-nafs an-nabatiyah)
Jiwa tumbuh-tumbuhan (an-nafs an-nabatiyah) mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ibnu Sina telah mendefinisikan jiwa tumbuh-tumbuhan sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan. Jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki tiga daya, yaitu:
a. Daya nutrisi (al-quwwah al-ghadziyah), yaitu daya yang berfungsi mengubah makanan menjadi bentuk tubuh, dimana daya tersebut ada di dalamnya.
b. Daya penumbuh (al-quwwah al-munammiyah), yaitu daya yang melaksanakan fungsi pertumbuhan, yaitu yang mengantarkan tubuh kepada kesempurnaan dan perkembangannya.
c. Daya generatif atau reproduktif (al-quwwah al-muwallidah), yaitu daya yang menjalankan fungsi generatif atau melahirkan, agar generasi manusia tetap bertahan.
[jiwa tumbuh-tumbuhan ini dipahami sebagai penggerak mekanisme tubuh yang berasal dari jantung, dan sebagian daya yang dihasilkannya akan digunakan oleh jiwa hewan dan jiwa rasional]
2. Jiwa hewan (an-nafs al-hayawaniyah)
Jiwa hewani mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan, sedangkan pada tumbuh-tumbuhan tidak ada sama sekali. Ibn Sina mendefinisikan jiwa hewani sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta merangkap berbagai parsilitas dan bergerak karena keinginan. Jiwa hewani memiliki dua daya, yaitu daya penggerak dan daya persepsi.
a. Daya penggerak (al-quwwah al-Muharrikah), yaitu terdiri dari dua bagian, pertama, pengerak (gerak fisik) sebagai pemicu dan penggerak pelaku. Kedua, Daya tarik (hasrat) yaitu daya yang terbentuk di dalam khayalan suatu bentuk yang diinginkan atau yang tidak diinginkan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk menggerakkan. Pada Daya tarik (hasrat) ini terbagi menjadi dua sub bagian yaitu Daya Syahwat dan Daya Emosi.
b. Daya persepsi terbagi menjadi dua bagian, pertama daya yang mempersepsi dari luar, yaitu pancaindera eksternal seperti mata (penglihat), telinga (pendengar), hidung (pencium), lidah (pengecap) dan kulit (peraba). Kedua, daya yang mempersepsi dari dalam yaitu indera batin semisal indera kolektif, daya konsepsi, daya fantasi, daya imajinasi (waham) dan memori.
[jiwa hewan ini dipahami sebagai ego / keinginan manusia, dan ego ini terhubung dengan duniawi dan setan.]
3. Jiwa rasional (an-nafs an-nathiqah)
Jiwa rasional mencakup daya-daya yang khusus pada manusia. Jiwa rasional melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikan jiwa rasional sebagai kesempurnaan pertama bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada suatu sisi ia melakukan berbagai prilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi yang lain ia mempersepsi semua persoalan universal. Pada jiwa rasional mempunyai dua daya, yaitu daya akal praktis dan daya akal teoritis.
a. Daya akal praktis cenderung untuk mendorong manusia untuk memutuskan perbuatan yang pantas dilakukan atau ditinggalkan, di mana kita bisa menyebutnya perilaku moral.
b. Daya akal teoritis, yaitu: akal potensial (akal hayulani), akal bakat (habitual), akal aktual dan akal perolehan.
Fakultas-fakultas jiwa ini bukanlah entitas berpisah yang masing-masing bertindak secara berbeda terpisah dari jiwa itu sendiri, tetapi mereka bekerja sama dan saling membutuhkan. Masing-masing memiliki fungsi dan sistem kerja sendiri melalui organ, waktu dan kondisi yang berbeda. Dalam hal ini, fakultas-fakultas jiwa pada kenyataannya merupakan jiwa itu sendiri (jiwa yang satu) yang mewujudkan dirinya berdasarkan berbagai kondisi yang dihadapinya.
[Jiwa rasional ini dipahami sebagai akal, dan jiwa rasional ini langsung terhubung dengan ego dan nurani, kemudian bersinergi menjadi manusia seutuhnya. Sedangkan nurani adalah bagian dari akal yang menjadi penasihatnya (bukan pengambil keputusan). Ia bisa diibaratkan dengan gelas bening yang berisi air jernih yang secara otomatis bisa menjadi kotor. Jernih dan kotornya air dalam gelas tergantung tingkat ketakwaaan seseorang. Semakin tinggi nilai ketakwaan manusia, maka akan semakin jernih air dalam gelas. Begitu pun sebaliknya, semakin rendah nilai ketakwaan manusia, maka akan semakin kotor air dalam gelas. Jika air dalam gelas sangat jernih, maka setitik pasir pun akan mudah terlihat. Namun jika air dalam gelas kotor, maka segenggam batu pun tak mungkin terlihat. Hal ini berlaku untuk semua manusia, karena itulah nurani yang bersih akan menjadi penasihat akal yang bisa diandalkan. Sebab nurani ini terhubung dengan aqal di jiwa yang sebenarnya, terhubung dengan malaikat, dan terhubung dengan Allah.]
Hubungan jiwa dan jasad
Menurut Ibn Sina antara jasad dan jiwa memiliki korelasi sedemikian kuat, saling bantu membantu tanpa henti-hentinya. Jiwa tidak akan pernah mencapai tahap fenomenal tanpa adanya jasad. Begitu tahap ini dicapai ia menjadi sumber hidup, pengatur, dan potensi jasad, bagaikan nakhoda (al-rubban) begitu memasuki kapal ia menjadi pusat penggerak, pengatur dan potensi bagi kapal itu. Jika bukan karena jasad, maka jiwa tidak akan ada, karena tersedianya jasad untuk menerima, merupakan kemestian baginya wujudnya jiwa, dan spesifiknya jasad terhadap jiwa merupakan prinsip entitas dan independennya jiwa. Tidak mungkin terdapat jiwa kecuali jika telah terdapat materi fisik yang tersedia untuknya. Sejak pertumbuhannya, jiwa memerlukan, tergantung, dan diciptakan karena (tersedianya) jasad. Dalam aktualisasi fungsinya, jiwa mempergunakan dan memerlukan jasad, misalnya berpikir yang merupakan fungsi spesifiknya tak akan sempurna kecuali jika indera turut membantu dengan jiwa sebagai penggerak atau motorik.
=========================================================================
Jadi roh lah yg penuh inisiatif.
Avatar meragakannya.
=========================================================================
Jika kita memainkan game online buatan manusia memang seperti itu Bro, tapi jangan lupa kalau teknologi permainan yang Allah ciptakan tidak sama dengan yang ada di dunia kita. Kesimpulannya avatar jiwa lah yg penuh inisiatif. Avatar jasad meragakannya. Ketahuilah kalau roh yang penuh inisiatif hanya bisa terjadi jika manusia sudah mengalami “un plug”. Kenapa bisa demikian, sebab kemampuan roh terpenjara sejak “plug” di avatar jiwa dan jasadnya. Konon kemampuan roh bisa terbebas jika avatar jiwa sudah menyadari siapa sejatinya dia (dirinya) dan mampu “un plug”, yaitu avatar jiwa dan jiwa sebenarnya sudah menjadi satu kesatuan (akal lahiriah (AI) = aqal rohaniah), atau avatar jiwa sudah digantikan dengan jiwa yang sebenarnya. Untuk mempermudah pemahaman ini, bisa diibaratkan seperti neo dalam film matrix yang telah “un plug” dan ketika ia kembali ke dunia maya ia pun mempunyai kemampuan yang melebihi manusia biasa. Karena itulah aku meyakini kalau para rasul adalah manusia yang sudah mengalami “un plug” sehingga mempunyai kemampuan melebihi manusia biasa. Salah satu contohnya adalah peristiwa isra miraj Nabi Muhammad saw. Dan karena itu pula aku meyakini kalau Nabi Isa as adalah manusia yang sudah “un plug” sejak dalam kandungan (ditiupkan roh kudus istilah kitab suci) sehingga aku pun tidak heran dengan segala kemampuannya. saat ini beliau pun sedang “un plug” (diangkat istilah kitab suci) dan akan “plug” kembali setelah kemunculan Imam Mahdi. Agar manusia biasa bisa “un plug” tidak ada cara lain, ia harus belajar makrifat. Dan rasul yang kupercaya bisa mengajarkan cara “un plug” pada permainan versi final ini adalah Nabi Muhammad saw, dan hal itu pun sebetulnya tidak diajarkan kepada sembarang manusia, namun hanya kepada manusia yang sudah menyadari siapa sejatinya dia (dirinya). Karena itulah dalam dunia Islam ada istilah hadist gaib, yaitu hadist yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang karena bisa menyesatkannya. Kematian bukanlah “un plug” namun hanya perpindahan dimensi, yaitu dari dimensi alam dunia ke dimensi alam barzakh. Saat di alam barzakh, roh hanya mengenakan avatar jiwa, sedangkan avatar jasad akan dikenakan kembali pada saat kebangkitan nanti. Permainan belum sepenuhnya usai, masih menghitung nilai akhir dari permainan yang kita mainkan.
Hati-hati Bro… manusia sudah banyak yang tertipu oleh setan, seolah-olah “un plug” padahal bukan, walaupun ia mempunyai kemampuan melebihi manusia biasa, dan kemampuan itu bukan berasal dari kemampuan roh yang sudah Allah ciptakan, namun berasal dari tipu daya setan (seperti masa kelam dulu, disaat ilmu sihir dan perdukunan merajalela). Namun, setelah Nabi Muhammad saw diutus untuk versi final, para setan tidak semudah dulu dalam hal mencuri berita dari langit lantaran adanya panah-panah api, dan karena itu pula ilmu sihir dan perdukunan tak sehebat masa lalu. Namun tingkat kesulitan permainan tak menurun, yaitu dengan hadirnya Dajjal sang penipu ulung, yang menjadikan manusia semakin tidak menyadari sejatinya dia (dirinya). Dan akhirnya Imam Mahdi pun hadir untuk menyadarkan umat manusia mengenai sejatinya dia (dirinya), kemudian Nabi Isa As akan turun “Plug” membantu beliau guna meyakinkan umat kristiani bahwa beliau bukanlah Tuhan dan akhirnya mengajak mereka untuk mengikuti syariat Nabi Muhammad saw (mengikuti panduan permainan versi final), kemudian beliau pun akan membunuh Dajjal. Hingga akhirnya manusia banyak yang memahami sejatinya dia (dirinya), dan masa keemasan umat manusia pun di mulai, yaitu dengan banyaknya manusia yang meraih kemenangan lantaran mampu memilih takdir dengan benar (sesuai panduan permainan versi final). Setelah itu, dunia kembali kelam karena suatu sebab, skenario penghancuran pun di mulai. Orang-orang yang masih beriman dimatikan, dan tinggallah mereka yang buta mata hatinya, kemudian… kiamat.
O ya, Bro… Istilah “plug” dan “un plug” ini sebetulnya tidak sesederhana yang aku tulis, yaitu tidak sama persis dengan istilah “plug” dan “un plug” dalam film the matrix. Mengenai kebenaran yang sesungguhnya hanya Allah yang tahu. Namun begitu, kita patut bersyukur karena Allah telah menciptakan para rasul, kitab-kitab suci, komputer, film the matrix, film avatar, dan lain sebagainya, sebagai jalan untuk bisa memahami hal ini. Dan semuanya telah tertulis di dalam lauhul mahfuz.
=========================================================================
Jika manusia itu daging dan roh
Kebutuhannya cairan dan gasan.
Aku pikir, padatan konsumsi jiwa.
=========================================================================
menurutku yang dibutuhkan manusia untuk menang dalam permainan adalah adanya buku panduan permainan yang sesuai dan panduan dari seorang game master yang sesuai pula. Sungguh tidak sesuai, jika kita memainkan suatu game online versi final, dengan menggunakan buku panduan permainan dan panduan dari seorang game master dari versi-versi sebelumnya. Apalagi jika tidak menggunakan buku panduan permainan dan panduan dari seorang game master, bisa cilaka duabelas. Ingat Bro, permainan ini tidak sama dengan game online, jikalau mati bisa hidup lagi dan memperbaiki kesalahan sebelumnya. Karena itulah aku meyakini, kalau para rasul adalah seorang game master yang membawa buku panduan dan bertugas memandu manusia agar bisa memenangkan permainan ini.
=========================================================================
Utk menang,
Mungkin kita hrs memenangkan orang,
Karena kekalahan membuat kekecewaan..
=========================================================================
Lawan kita bukan orang Bro, tapi kejahahatan menurut Allah. Dan salah satu kejahatan yang paling berat menurut Allah adalah menyekutukan-Nya. Dan aku mendambakan setiap jiwa bisa memenangkan permainan ini.
Mohon maaf Bro… kalau penjelasanku belum bisa memuaskanmu. Sebab aku pun masih belajar dan harus terus belajar. Dan aku percaya, pilihanku untuk berdiskusi denganmu adalah salah satu jalan untuk menambah ilmuku. O ya, aku mohon maaf jika ada kata-kataku yang tak berkenan, sebab aku menyadari kalau aku hanyalah manusia yang tak luput dari salah dan lupa, dan kebenaran itu bisa saja terasa pahit, baik hanya untukmu, hanya untukku, atau untuk kita berdua. Semoga kau memahami apa yang kusampaikan ini dalam sudut pandang mencari kebenaran, dan bukan sebagai perang apapun. Sebab apapun namanya, bagiku perang penuh dengan tipu muslihat, dan aku tidak menghendaki itu di saat aku sedang belajar melakukan pilihan tentang kepedulian sejati, dan juga sedang menyampaikan kebenaran yang kupahami dalam upaya mencari kebenaran yang hakiki. Bagiku, perang pemikiran hanya boleh dilakukan dalam hal membela keyakinan, ketika keyakinan kita diperangi dengan berbagai tipu muslihat maka kita wajib membelanya dengan menyampaikan kebenaran sesuai dengan keyakinan kita tanpa tipu muslihat apapun. Jika tak mampu lantaran kurangnya ilmu atau sudah tidak ada gunanya lagi lantaran lawan mengada-ada, maka diam adalah pilihan terbaik. Boleh mempercayai, boleh tidak, pilihan ada padamu.
=========================================================================
Mas Stain kemana, ya!
Aku rindu komenannya,
Yg kerap bernomor-nomor ajimat..
=========================================================================
Hmm… mungkin beliau tidak mampu, atau.. merasa sudah tidak ada gunanya, atau… ada kesibukan lain, atau… tidak punya uang buat koneksi lantaran beliau miskin. ^_^ intinya aku pun tidak tahu yang sebenarnya Bro… ^_^
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
8 Februari 2012
Widih!
Panjang sekali pikiranmu, Bro!
Aku terbiasa simpel sederhana,
Jadi perlu waktu utk mencernamu.
Salam Damai!
Maren Kitatau
11 Februari 2012
To: Bois
8 Februari 2012
Sorry Bro, kelamaan.
Postermu lumayan rumit,
Jadi,
Perlu ada penyamaan persepsi.
Aku respon sedikit-sedikit aja,
Dan sesederhana mungkin…
Kau banyak mendapat gambar dari film avatar keknya.
Kesimpulanmu, roh itu memiliki dua avatar: avatar kasar dan avatar halus.
Atau kita sederhanakan, roh itu memiliki tubuh dan jiwa.
Tampaknya roh itu aktif,
Aktif memilih dan memiliki
Aktif menggunakan tubuh dan jiwa,
Tapi,
Bukankah jiwa yg menggunakan tubuh atau roh,
Atau mereka bisa saling gantian menggunakan?
Gimana menurutmu, Bro!
Saat roh memasuki dunia permainan … Wah!
Aku belum paham arti “saat roh” di kalimat itu
Dan arti “memasuki”, dan arti “dunia permainan”
Yg bisa kupahami maksudmu, ya itu tadi,
Bahwa tampak lagi bahwa roh yg aktif “memasuki”
Kemudan roh “akan menggunakan” tubuh dan jiwa.
-
Hubungkanlah itu dgn takdir-mu
Atau pun dgn lauh mahfudz-mu.
Segitu dulu Bro,
Kita kudu menyamakan persepsi dulu.
Banyak istilah yg mungkin dia-dia juga
Dan fungsi-fungsi tubuh, jiwa dan roh
Mohon perhatikan yg di dalam tanda petik!
bersambung …
Maren Kitatau
12 Februari 2012
@Bois
Persepsi Tubuh vsJasad.
Kau menggunakan istilah jasad
Aku menggunakan istilah tubuh,
Tubuhmu tinggi, jasadku panjang.
Yg tinggi kalo tidur jadi panjang, hh
Salam!
yosepin
12 Februari 2012
Kalo menurut gue, Walau ada Takdir tidak seluruhnya adalah Takdir
wel, “bkn weldus lho”
Jika semua adalah TAKDIR berarti Kita ini manusia adalah ROBOT
menurut saya adam memakan buah koldi, pilihan kita jd kristen atao islam itu bukan takdir
memeang ALLAH Maha Tahu…..tapi tidak bisa melanggar Perkataannya.
Seperti…..Upah Dosa Adalah maut
bagaimana sikap Allah Antara Maha Adil dan Maha Kasih
JBU
Maren Kitatau
12 Februari 2012
Pikirku juga begitu, Yos!
Takdir kita hanya ada dua:
Takdir tubuh dan takdir roh.
Tubuh itu takdirnya sementara
Dia itu lemah dan penuntut.
Dia dari benua bawah.
Roh itu takdirnya selamanya.
Dia itu kuat dan penurut.
Dia dari benua atas.
Jiwa bukan lah takdir, melaikan kesempurnaan diri, utk sempurna seperti anak-anak Tuhan atau sempurna seperti anak-anak Setan. Jiwa ini yg menentukan kualitas nyawa kita, yaitu menjadi roh-berjiwa atau bakalan menjadi jiwa-berroh, hh.
Keknya begitu lah.
Jiwa yg kesumat duniawi membetot rohnya hingga nungsep. Jiwa-beroh adalah nyawa yg terbangnya serendah pohon tinggi. Dia suka nakutin atau ngagetin orang lewat. Jiwa yg kesumat akhirat berpasrah kpd keinginan rohnya. Roh-berjiwa adalah nyawa yg terbangnya tinggi tak terhingga. Roh-berjiwa nggak doyan sesajen, nggak bisa dipanggil-panggil. Jiwa-beroh amat doyan sesajen dan gampang dipanggil-panggil utk dikasi order dan dia gampang pula dibotolin, hh.
Ah, entah lah!
Salam Damai Bois!
Bois
13 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
Wah, tampaknya kau belum memahami apa yang kumaksudkan. Padahal aku sudah memberi gambaran dengan game online, film the matrix dan avatar agar kau lebih mudah memahami. Jika kau benar-benar bisa memahami kalau game online, film the matrix dan avatar adalah ciptaan Allah yang ada gunanya dan tidak ada gunanya, bisa mencerakan dan bisa menyesatkan, tentu kau bisa mengambil pelajaran karena sebab baik dan buruk bisa membawa hikmah, tergantung bagaimana manusia menyikapinya. Sebelum ada game online, film the matrix dan avatar aku sudah memikirkan hal ini dan aku mengalami kesulitan untuk menggambarkannya apa yang sudah di jelaskan di AlQuran mengenai Lauhul Mahfuz, namun setelah adanya game online dan film-film tersebut semakin jelaslah gambaran itu bagiku. Yup hanya sebagai gambaran saja, bukan hakekat yang sebenarnya, karena hanya Allah saja yang mengetahui hakekat sebenarnya yang sangat sangat sangat jauh lebih rumit dari apa yang kita bayangkan.
Silakan dipelajari dan direnungkan kembali bro…
=========================================================================
sedikit menanggapai komentarmu buat Yosepin
=========================================================================
Jiwa yg kesumat duniawi membetot rohnya hingga nungsep. Jiwa-beroh adalah nyawa yg terbangnya serendah pohon tinggi. Dia suka nakutin atau ngagetin orang lewat. Jiwa yg kesumat akhirat berpasrah kpd keinginan rohnya. Roh-berjiwa adalah nyawa yg terbangnya tinggi tak terhingga. Roh-berjiwa nggak doyan sesajen, nggak bisa dipanggil-panggil. Jiwa-beroh amat doyan sesajen dan gampang dipanggil-panggil utk dikasi order dan dia gampang pula dibotolin, hh.
Ah, entah lah!
=========================================================================
Rupanya kau belum bisa membedakan antara avatar jiwa dan jin bro, kau masih mencampur adukkan keduanya… ^_^
O ya Bro, tidak ada salahnya jika kau mengikuti saran ALAP-ALAP, mungkin dengan demikian kita bisa lebih mudah untuk menyamakan persepsi.
Bye and Peace V ^_^
ALAP-ALAP
13 Februari 2012
@YOSEPINE & MAREN
Ngomong2 soal takdir mungkin ini bisa membantu :
http://vilaputih.wordpress.com/2010/09/21/yang-awal-dan-yang-akhir-konsep-takdir-5/
Oh ya biar jelas baca konsep ke 1,2,3,4
Maren Kitatau
13 Februari 2012
@AA
Kita sedang mereka-reka tubuh jiwa dan roh.
Siapa yg berinisiatif, siapa yg mengeksekusi.
Jika inisiatif hanya berada pada takdir, ya …?
Pd ujungnya,
Diharapkan kita dpt berinisiatif membedakan
Mana-mana yg mulia mana-mana yg imitasi.
Salam Damai!
Maren Kitatau
13 Februari 2012
To: Bois
13 Februari 2012
Ya!
Belum sekomplek yg au mengerti.
Aku masih bertanya ttg:
Saat roh memasuki dunia permainan.
Aku belum paham arti “saat roh” di kalimat itu
Dan arti “memasuki”, dan arti “dunia permainan”
Sederhanakan lagilah, Bro.
Apakah inisiatif ada pd roh,
Atau inisiatif itu ada pd jiwa?
Jika kau benar-benar bisa memahami kalau game online, film the matrix dan avatar adalah ciptaan Allah yang ada gunanya dan tidak ada gunanya, bisa mencerakan dan bisa menyesatkan, tentu kau bisa mengambil pelajaran karena sebab baik dan buruk bisa membawa hikmah, tergantung bagaimana manusia menyikapinya.
Ya!
Harus ada yg buruk utk mengerti yg baik.
Harus ada yg baik utk mengerti yg buruk.
Ada beda-beda spt gitulah membuat kita berpikir.
Ada Jahudi, Kristen, Islam membuat kita “tapakur”
Aku masih merenenungkan siapa aku.
Yg mana diri ini yg sesungguhnya:
Aku tubuh, aku jiwa atau aku roh?
Kita sedang membedakan ke tiganya.
Kita belum mengaduk-aduknya, Bro:
Aku tubuh, aku jiwa atau aku roh.
-
Tak usah bawa-bawa istilah “jin” dulu.
Supaya tidak melebar,
Kalau boleh kita samakan yg di sini aja dulu.
Utamanya istilah2 yg di dalam tanda petik tadi:
“Saat roh”, “roh menggunakan”, “duina permainan”
Dari filem dan saranmu itu,
Kita buat filem baru cerita utk kita.
Bukan utk hakekat yg sebenarnya.
Spt kau bilang,
“karena hanya Allah saja yang mengetahui hakekat sebenarnya yang sangat sangat sangat jauh lebih rumit dari apa yang kita bayangkan.”
Salam Damai!
Bois
14 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
=====================================================================
Aku belum paham arti “saat roh” di kalimat itu
Dan arti “memasuki”, dan arti “dunia permainan”
=====================================================================
Oke aku akan coba mempermudah dengan memberi gambaran yang ada pada film the matrix.
“saat roh” = “saat Neo”
“memasuki” =” plug”
“dunia permainan”=”dunia maya”
jika belum “unplug” inisiatif ada pada avatar jiwa (AI), namun jika sudah unplug inisiatif ada pada jiwa yang sebenarnya.
=====================================================================
Kita sedang membedakan ke tiganya.
Kita belum mengaduk-aduknya, Bro:
Aku tubuh, aku jiwa atau aku roh.
-
Tak usah bawa-bawa istilah “jin” dulu.
=====================================================================
Mengenai “jin”, aku hanya menanggapi komentarmu buat Yosepin Bro, sebab tanpa kau sadari di dalam komentarmu itu telah membawa-bawa “jin”. Dan hal itu sama sekali tidak kumaksudkan untuk dihubungkan dengan diskusi kita alias topik yang berbeda.
Jiwa yang sebenarnya adalah bagian dari roh dan tidak terpisahkan. Kau bukan avatar berupa jasad dan jiwa (AI), kau adalah roh yang berjiwa.
=====================================================================
Dari filem dan saranmu itu,
Kita buat filem baru cerita utk kita.
Bukan utk hakekat yg sebenarnya.
Spt kau bilang,
“karena hanya Allah saja yang mengetahui hakekat sebenarnya yang sangat sangat sangat jauh lebih rumit dari apa yang kita bayangkan.”
=====================================================================
Kita ini seperti orang buta indra yang di ceritakan soal jeruk, kita merasa tentu mustahil bisa tahu hakekat jeruk jika kita tidak melihat, meraba, mencium, dan merasakannya. Ketika kita diberi indra, kita pun “merasa” bisa mengetahui hakekat jeruk. Walaupun akhinrya kita menyadari kalau itu bukan hakekat sebenarnya (hanya persepsi yang berdasarkan indra). Intinya apapun yang kita pahami dari hasil persepsi tidak akan mencapai kahekat sebenarnya, sebab perangkat avatar yang kita kenakan memang tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Dan tujuan dari memahami hal yang memusingkan ini hanya sebatas memberi kesadaran tentang sejatinya kita (diri kita), tujuan selanjutnya adalah menyiapkan diri agar Allah berkenan memberitahu kepada kita mengenai hakekat yang sebenarnya “unplug”. Inilah yang saya maksud dengan roh terbebas, karena Allah telah berkenan kepadanya untuk memahami hakekat sebenarnya mengenai kehidupan ini. Ketika Neo dalam film the matrix memutuskan untuk meminum pil biru atau merah, seperti itulah pilihan yang harus kita pilih, mau tetap “plug” atau “unplug”.
semoga kini kau sudah mendapatkan gambarannya, Bro.l
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
16 Februari 2012
To: Bois 14 Februari 2012
Damai itu indah!
Kita percaya itu
Wah,
Koq malah roh-nya yg diperumit jadi Neo
Neo menjadi rancu lagi bagiku dan yg lain.
Justru kata “saat”nya yg perlu diklariikasi, Bro!
Apakah boleh dikatakan bahwa “saat roh memasuki …”
Itu sama dgn memasuki tubuh org menjadi kesurupan?
Pls! Bro! “Saat roh memasuki”, sama dgn saat kesurupan?
Maksudnya manusia menjadi aware, atau sadar,
Atau menjadi bergairah, atau kesurupan itu tadi.
Plug itu juga bisa berarti dicolokkan ke stop kontak.
Maksudmu,
Sama dgn dunia roh,
Atau alam gaib roh
Dlm cerita kita?
Plug dan unplug disederhanakan menjadi hidup dan mati aja..
Plug = roh + jiwa + tubuh = hidup; Unplug = roh + jiwa = mati.
Gimana, Bro!
Tambah lagi istilah “jiwa yg sebenarnya”.
Kita hrs samakan lagi persepsi awam diri.
Plug, unplug lalu avatar jiwa dan jiwa.
Boleh lah kukatakan,
Saat plug maupun unplug (saat hidup/mati)
Inisiatif ada pada jiwa (avatar/sebenarnya)
Karna pd jiwa ada id, ego dan superego.
id = avatar jiwa
ego = jiwa
superego = jiwa yg sebenarnya
Ooh! Maksudmu jiwa-beroh yg bisa dibotolin?
Kalau gitu lupakan saja botolnya, tinggallah:
Roh-berjiwa atau jiwa-berroh saat unplug.
Pd jiwa kukenal: id-ego-superego tadi.
Id pro tubuh, superego pro roh.
Boleh begitu pemahamanku?
Setuju aku, Bro! Roh-berjiwa!
Kita bukan tubuh-berjiwa (sori: jasad=tubuh)
Kita harus lah berada pd roh-berjiwa.
Indra tubuh,
Alamiah!
Setuju lagi aku, Bro.
Indra tubuh diperlukan hanya utk mengenali hal alami.
Indra roh hrs digunakan utk memahami hal-hal rohani.
Memang memusingkan,
Jika kita hanya mengandalkan indra alami
Karna tubuh itu lemah dan penuntut sifatnya.
Orientasinya hanya pd kepuasan daging tok.
Indra roh hrs diandalkan utk mengenal hal rohani.
Ketuhanan tak bakalan bisa dikenali dgn indra tubuh.
Kemuliaan tak bisa diukur hanya dgn keadilan kita.
Ya!
Terbebas dari hal-hal yg imitasi.
Terikat pd hal-hal yg mulia asli,
Kpd Allah yg memberi arti
Arti plug & unplug.
Kita tidak tau sejak kapan hidup
Kita tidak tau sampai kapan mati
Kita serahkan plug&unplu pd-Nya.
Itu cerita kita,Bro!
Ya!
Baik pd kehidupan plug dan
Maupun pd kehidupan unplug
Bagi yg menyadari sedari dini.
Suatu saat aku akan nonton film itu.
Sementara ini begitulah terjemahanku
Persepsi ku dari cerita mu ttg film itu.
Satu hal yg sudah terang bagiku,
Kita mulai bisa membedakan
Antara tubuh, jiwa dan roh.
Indra tubuh utk hal alami
Indra roh utk hal rohani
Inisiatif pengguna pd jiwa.
Instilah plug dan unplug
Adalah hubungan nyawa pd tubuh
Dimana se-nyawa adalah roh dan jiwa,
Yg terbedakan tapi tak terpisahkan.
-
Gimana Bro!
Salam Damai!
Bois
16 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
Wedew… rupanya kau belum nonton Bro. Kalo gitu tonton dulu deh Bro, kemudian baca dan renungkan kembali semua tulisanku sejak awal. Pemikiranmu masih terpenjara, Bro. Persis seperti Neo yang belum menyadari sejatinya dia. Dan jika kuperhatikan, tampaknya kau tidak konsen membaca tulisanku sebelumnya bro.
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
18 Februari 2012
Ya deh! Nonton dulu!
Instilah mu kebanyakan Bro,
Bagai over laping jadi bingung.
Tapi stidaknya kau setuju,
Pd kita ada tiga yg utama,
Tubuh, jiwa dan roh, kan Bro?
Salam Damai!
Maren Kitatau
18 Februari 2012
Kalau pun nanti ku tonton film itu,
Tujuan kita bukan mengkritisinya, kan Bro!
Dan bukan juga hendak meng-aprove-nya pula.
Tononan itu hanya menambah wawasan kita.
Intinya, apa ceritamu ttg roh mu, jiwa mu,
Dan tubuhmu, yg kau bilang avatar itu.
Salam Damai!
Maren Kitatau
22 Februari 2012
… sambungan
To: Bois
8 Februari 2012
Kulanjutkan responku sebisanya,
Pls koreksi jika persepsiku salah,
Tapi tunjukkan salahnya dan betulkan.
Katakan, “jiwa yg sebenarnya itu” = roh, atau mendekati roh.
Bila bisa begitu, mungkin belum perlu ada pengakuan,
Karena roh mulanya berasal dari Allah sendiri.
Masalahnya adalah bujuk-rayu dari Roh tak Kudus,
Sebagai mana Adam dan Hawa anggap enteng pd-nya,
Lalu terjadilah saling tuding salah-menyalahkan, spt kita kini.
Setuju aku Bro, Allah tak ikut bermain,
Karna Allah telah memberi kuasa kpd kita.
Agar kita bisa menjadi kalifah di muka bumi ini.
Begitulah rancangan-Nya dan itu masih berlaku.
Tapi setelah manusia jatuh ke dlm dosa, semua lupa.
Permainan menjadi kasar dan suka-suka kita, keknya.
Maka utk menjadi khalifah semakin sulit tentu.
Memperbaiki hubungan dgn Allah juga amat sulit.
Kuasa Roh tak Kudus lebih menjanjikan hidup senang.
.bersambung …
Bois
22 Februari 2012
Salam damai juga Bro… ^_^
=============================================================
Tapi stidaknya kau setuju,
Pd kita ada tiga yg utama,
Tubuh, jiwa dan roh, kan Bro?
=============================================================
Gini aja deh bro, biar mudah membedakan.
Jasad berjiwa (avatar berupa jasad dan jiwa),
roh berjiwa (roh dan jiwa yang sebenarnya).
=============================================================
Katakan, “jiwa yg sebenarnya itu” = roh, atau mendekati roh.
Bila bisa begitu, mungkin belum perlu ada pengakuan,
Karena roh mulanya berasal dari Allah sendiri.
Masalahnya adalah bujuk-rayu dari Roh tak Kudus,
Sebagai mana Adam dan Hawa anggap enteng pd-nya,
Lalu terjadilah saling tuding salah-menyalahkan, spt kita kini.
=============================================================
Lengkapnya “roh berjiwa”
roh berjiwa hewan = hewan
roh berjiwa rasional = Malaikat
roh berjiwa rasional dengan ego dan nurani = manusia dan jin
jadi tidak adalah istilah “Roh tak Kudus” Bro. Semua roh itu kudus.
=============================================================
Tapi setelah manusia jatuh ke dlm dosa, semua lupa.
Permainan menjadi kasar dan suka-suka kita, keknya.
=============================================================
Bisa dijelaskan kapan terjadinya peristiwa itu Bro ?
Ngomong-ngomong, apa kau sudah menontonnya Bro? Tentu hanya untuk menambah wawasan saja Bro.
Bye and Peace V ^_^
Maren Kitatau
23 Februari 2012
To: Bois
22 Februari 2012
Kita lanjut Bro!
Mereka-reka,
Mengancer-ancer,
Dgn keterbatasan kita.
Kita belum membedakannya, Bro.
Kita baru omung unsur utamanya,
Diri kita itu loh!
Banyak yg akan kita bedakan
Kalau persepsi dasar kita tak beda
Mis.:
Roh berjiwa, jiwa berroh
Tubuh berjiwa, jiwa bertubuh
Roh bertubuh, tubuh berroh, dst
Osilasi tubuh, jiwa dan roh bisa banyak
Belum lagi jika jiwa itu id, ego, dan superego
Roh bisa rohku, Roh Kudus dan Roh tak Kudus.
Mis.:
Roh Kudus = Tuhan
Roh tak Kdus = Setan
Ruh ku tadinya netral, lalu bertumbuh.
Tumbuh bersekutu dgn Tuhan atau Setan.
Cerita kita masih panjang, mungkin takkan habis menaksirnya.
Jadi biar mudah, buatlah unsur-unsur itu sesederhana mungkin,
Lalu kita gunakan fenomena-fenomena yg ada, pun yg dongeng.
Kau gunakan istilah avatar. Avatar itu kata lama dari Hindu yg baru populer oleh bloger dan ditambah populer oleh film yg kau tonton itu. Istilah itu sekarang berkemang pula menjad Gavatar sbg idenritas global para netter. Ntar lagi kata ini masuk dictionary tentu. Jadi, carikanlah padanan indonesianya yg familier bagi diri agar semua ngeuh, Bro. Atau bikin kata baru utk kita jika kau tak suka mengunakan istilah tubuh atau daging. Memang aku tak suka istilah jasad dgn alasan yg kemarin. Apa keenggananmu menggunakan istilah tubuh atau daging sebagai ganti avatar. Toh itu sebagai identitas terbawah sudah cukup. Kurasa lebih mudah dgn istilah tubuh, jiwa dan roh pd diri ini. Simpel nggak panjang-panjang ngetiknya, pun mikirnya. Toh kau telah menggunakan kata itu, tapi kau tambah-tambahin dgn kata sifat lain-lain menjadi komplek membingungkan.
Istilah jasad sudah kutawar menjadi tubuh dgn alasan:
Tubuh bagai hidup berdiri, jasad bagai mati telentang.
Kalau kau sepakat itu, yg diatas tadi menjadi:
Tubuh berjiwa kutaksir = seperti binatang.
Tubuh berroh kutaksir = seperti jombie
Roh berjiwa kutaksir = seperti nyawa (+)
Jiwa berroh kutaksir = seperti arwah (-)
Hh! Entah lah!
Ini dulu Bro!
One step ahead,
Salam Damai!