Fanatisme bukan monopoli agama, karena diluar agama fanatisme juga ada. Dalam olah raga misalnya ada yang fanatik terhadap sepak bola, dan di dalam sepak bola ada yang fanatik terhadap Barcelona, Intermilan atau Arsenal. Ada juga yang fanatik terhadap musik dan di dalam musik ada yang fanatik terhadap musik Rock, dan di dalam musik rock ada yang fanatik terhadap Iron Maiden atau Deep Purple misalnya.
Nah entah mengapa fanatik yang berhubungan dengan agama selalu lebih mendapat perhatian yang luar biasa, apalagi jika sampai terjadi keonaran atau kerusuhan yang memakai nama agama pasti agama yang bersangkutan citranya akan ikut buruk.
Sebenarnya agar kita tidak asal menuduh bahwa buah kefanatikan yang merusak dari agama berasal dari sebuah agama tertentu maka kita harus memahami dulu makna dari suatu agama. Anda bisa memahaminya DISINI.
Nah dari situ kita bisa menganalogikan agama sebagai sebuah konser musik. Anda pasti tahu bahwa terkadang di kota-kota di Indonesia sering diadakan konser musik, entah Ndangdut, Pop atau Rock.
Kita misalkan ada sebuah konser tunggal sebuah band “UNGU” dan kita misalkan “UNGU” adalah sebuah agama (Kitab Suci), tentu yang menjadi penonton sebagian besar adalah penggemar fanatik UNGU, atau setidaknya suka. Tetapi ditengah-tengah konser ternyata ada keributan antar penonton yang mana saling tonjok sana-sini, sehingga karena ada keributan Konser UNGU terganggu dan terancam dibubarkan. Padahal sebelumnya “UNGU” sudah menasehati para penonton agar tertib dan bijak ketika menonton.
Nah jika mereka adalah sama-sama Fanatik terhadap UNGU mengapa mereka bisa ribut dan berbuat onar ketika menonton konser UNGU yang sama-sama mereka idamkan?. Tentu bukan UNGU nya yang salah, tetapi sikap para penonton yang tidak saling menghargai. Atau karena ada beberapa penonton yang punya aturan sendiri.
Dari sini kita bisa melihat bahwa Kerusuhan atas nama agama bukanlah buah dari kefanatikan suatu agama. Tetapi karena oknum dalam suatu agama yang mungkin ketika menonton suatu konser agama tidak mengindahkan sang pembuat Konser.
by WEDUL SHERENIAN


Mahesa
2 Mei 2011
Pertama neh kang wedul…
Analog kang wedul mantabz..
Wedul Sherenian
3 Mei 2011
@Mas Mahesa
masak cih
asam
3 Mei 2011
Lha… koq malahan sedih tho mas dul. Kalaulah ada barisan punk, lalu disusul ‘shaf’ rock, ada lagi dangdut, keroncong, gambus, tak lupa pop, caiya caiya, underground, r’nb,,, yo wis tho. Semua disebut dalam satu wadah bernama fans musik. Tentunya sebelum keluar dari pakem pecinta musik dan bermusik.
.
Tinggal bagaimana mengatur barisan-barisan. Apakah perlu ada rambu-rambu, ataukah cukup hanya dengan ‘saling memahami dan bertoleransi’, ataukah menunggu seorang imam (keknya kelamaan dan tidak berbau ikhtiar), ataukah menggalang tiap-tiap ‘buih’ untuk berdakwah di media-media dajjal (koyok bung dul nie). Wis pokoke merapat, tinggal mengkoordinasikannya piye?
.
Mungkin perlu identifikasi izzah dan mem-booming kannya.
Wedul Sherenian
3 Mei 2011
@asam
tentu segala sesuatu ada rambu-rambunya, cuma terkadang kita ini sering memakai rambu2 yang masih abu-abu untuk memfanatikkan diri dalam aliran2 yang dianut.
Aku pribadi tidak menyukai yang namanya KEIMAMAN, karena konsep keimaman seperti halnya dalam Syiah, atau Suni Ahmadiyah membuat umat terkotak-kotak. Termasuk Imam 4 Mashab itu jika penganutnya tidak saling menghargai dan mengerti makna dari fikih juga bisa memecah belah umat.
Micek
3 Mei 2011
@Kang Wedul
Mantap surantap kang…..keep your dakwah yang elegant ini. I love this blog……
Wedul Sherenian
4 Mei 2011
@Mas Micek
NGomong2 kapan meleknya
Makasih bro, kalo ada waktu insyaAllah tetep posting dan komen disini.
asam
4 Mei 2011
Rambu-rambu itu kayaknya lebih dominan abu-abu, karena al-furqon lebih memberi keleluasan selebar-lebarnya dalam berikhtiar manusia. Ibarat badan jalan yang lurus, kepunyaan islam lebih lebar dari agama lain. Di batasi bahu jalan kanan dan kiri yang kita sebut ekstrim kiri – kanan.
.
Contohnya “eye an eye”. Batas ekstrim kirinya dibalas dengan nyawa pembunuh tanpa harus menghukumi keluarga pembunuh atau merembet ke yang lain. Dan batas kanannya dimaafkan entah dengan berbagai alasan yang mendasarinya (tetapi tetap dihukum dengan denda).
Atau
Pencuri dipotong tangan sebagai ekstrim kiri yang masih diperbolehkan (ndak perlu dipukuli sampai mati- ini bukan ekstrim lagi, tapi perikehewanan). Dan ekstrim kanannya dimaafkan malah disantuni untuk modal kerja.
‘
Fanatik atau ekstrimis berkonotasi negatif, melewati jalur atau pakem.
Wedul Sherenian
4 Mei 2011
@mas asam
yup betul, Islam itu seharusnya di tengah2 tidak terlalu ke kiri atau kekanan. Bahkan seorang pencuri yang tertangkap karena mencuri dengan terpaksa akibat hidup melarat dan meminta2 juga tak ada yang mengasih harus dimaafkan dan disantuni sebagai fakir miskin, bukannya di potong tangan. Yang dipotong tangannya itu jika sudah kaya masih mencuri!. Apalagi jika kekayaannya hasil kejahatan.
Dan selama ini banyak kesalahan dalam memfanatikkan diri. Bukannya memfanatikkan dalam Tauhid tapi merembet ke arah fikih. Menurutku tak ada fikih yang abadi, yang abadi adalah tauhid. Andaikan orang kaya berawal dari kemelaratan tentu orang kaya tersebut memahami rasanya hidup melarat.
Misalnya begini :
Seorang muslim yang dari awal selalu diberi kelapangan rizki bahkan lahir dari keluarga mampu kebanyakan akan lebih tenang dalam menjalankan fikih.
Sedangkan seseorang yang lahir dari keluarga melarat dan hidup dalam kesempitan rizki pasti dalam menjalankan fikih lebih berat dan banyak penyimpangan.
Nah orang yang fanatiknya melebar ke arah fikih itu jika diibaratkan sebagai orang kaya yang menghakimi orang melarat tadi, karena orang melaratnya tidak bisa melaksanakan fikih layaknya orang kaya.
Itulah mengapa aku lebih suka dengan kebebasan Mashab. Gak harus fanatik ke mashab tertentu. Karena kehidupan di daerah Kutub itu beda dengan di daerah tropis atau Gurun pasir.
Terkadang kita masih susah membedakan manakah Islam itu. Kita tentunya harus bisa membedakan Islam yang asli dan Islam yang sudah bercambur dengan kebudayaan.
Seandainya nabi Muhammad lahir di daerah Kutub mungkin aturan fikih dalam Islam pada saat itu juga lain.
Memang satu-satunya kunci agar dalam menjalankan fikih bisa baik adalah kesejahteraan ekonomi masyarakat.
asam
5 Mei 2011
==first==
Akan tetapi, opini fanatik islam dalam persepsi islamphobia saat ini, dipungkiri atau tidak, adalah dianggap ekstremis kanan. Sedangkan lini tengahnya diisi humanism, liberalism, dan pluralism. Dan ekstrem kiri adalah perlawanan secara politik maupun militer terhadap “western”. CMIIW.
Adalah menyedihkan seorang mukmin yang memegang buhul agama dalam kehidupan sehari-hari (fikih), dicap sebagai ekstremis – fanatik. Sekali-kali janganlah menganggap tauhid hanyalah urusan hati dan ritual, seperti halnya dalam agama nasrani, meski disadari atau tidak peminggiran ini terjadi dalam pendidikan sekuler yang didapat sejak lahir.
Sekali lagi perlu identifikasi izzah dan disebarluaskan.
==second==
Perkembangan fikih atau fikih (bisa) berkembang?
==kaping telu==
Wawasan pikiran dan kelapangan dada adalah berbeda setiap orang. Dan madzhab masih diperlukan sebagai pijakan memahami agama. Dan memilih salah satu madzhab lebih baik dari pada tidak punya dasar pijakan. Dan menggemari “punk dengan segala assecoriesnya” adalah sah-sah saja. Bukankah mempelajari ilmu agama adalah yang utama, meski banyak rintangan yang dihadapi?
==pungkasan==
Meski kemiskinan akan memudahkan untuk menjadi kufur nikmat, tetapi bukanlah hal ini yang dikhawatirkan Rosulullah menjelang wafatnya. Lihatlah Musa as, melepas kenyamanan istana, sidharta gautama, merantau dari tahta kepangeranan, Rosulullah saw, menyerahkan bisnis perdagangan, dan banyak contoh lain. Bahkan rosul berdoa agar dikelompokkan sebagai orang yang tak berharta.
Mari, kita tengok penduduk miskin antar negara. Rusia dan filipina marak akan pelacuran, “western” dengan santunan dari pajak, ethiopia-amerika selatan-geng bronx penuh kehidupan yang keras dan narkotik, indonesia-mesir-turki bukankah lebih tenang? CMIIW (tentu dengan latar belakang dan budaya yang berbeda)
Tuduhan orang miskin adalah penjahat dan pembuat onar adalah model kapitalisme-feodal. Dan INI SERIOUS.
Fanatik tidak mengenal status sosial. Bukan pula karena ketertindasan. Maka tak heran jika masyarakat islam dituding mengandung ajaran melawan lini tengah saat ini, tanpa memandang tingkat keimanannya. INI LEBIH SERIOUS.
Wedul Sherenian
5 Mei 2011
Adalah menyedihkan seorang mukmin yang memegang buhul agama dalam kehidupan sehari-hari (fikih), dicap sebagai ekstremis – fanatik.
Tentu tidak begitu. Kecuali jika fikih seseorang digunakan untuk menghakimi fikih orang lain, bahkan sampai membunuh orang lain. Terkadang kita menyayangi hewan piaraan kita, meskipun hewan itu mungkin ATHEIS dan tak punya FIKIH
.
Islamphobia terjadi karena adanya perlawanan sekelompok orang atas bangsa lain tetapi menggunakan landasan agama sehingga terkesan menyeramkan. Dan mudah difitnah sebagai Teroris.
Amerika dan Israel adalah teroris sejati tetapi mereka berhasil meninggalkan embel2 keagamaan sehingga jarang kita menganggap kejahatan Amerika sebagai Kejahatan Kristen atau Kejahatan Israel sebagai Kejahatan Yahudi.
Dan memilih salah satu madzhab lebih baik dari pada tidak punya dasar pijakan.
Bagi mereka yang mapan dengan 1 mashab silahkan saja. Tapi ada juga yang tidak mapan dengan 1 mashab, karena aturan didalamnya dirasa ada yang tidak sesuai, jadinya kekurangan itu diambil dari mazhab lainnya. Yang penting kita menghormati mereka yang memilih berbeda. Karena tidak mungkin kita memaksakan seseorang berenang padahal dia tak bisa berenang.
Lihatlah Musa as, melepas kenyamanan istana, sidharta gautama, merantau dari tahta kepangeranan, Rosulullah saw, menyerahkan bisnis perdagangan, dan banyak contoh lain. Bahkan rosul berdoa agar dikelompokkan sebagai orang yang tak berharta.
mungkin kita harus berhati-hati dengan statemen ini, karena bisa membuat salah tafsir. Bagaimanapun kita butuh harta untuk hidup tetapi memang jangan sampai menggelincirkan dari aturan agama.
Sidharta atau orang budha memang tidak mengurusi harta tetapi mereka menerima sumbangan dan donatur. Anda lihat saja di Vihara atau di Tibet, mereka bisa membangun Vihara megah itu karena ada donatur. Nabi Muhammad dan Musa pun juga tak mungkin se ekstrim itu untuk menjadi orang tak berharta. Orang berharta itu banyak manfaatnya bagi yang tahu.
Orang yang memilih melepas harta dan memilih dekat dengan Tuhan adalah mereka yang lebih suka hidup menjadi INDIVIDU dan nyaman dalam KEINDIVIDUANNYA, tetapi jika kita berkeluarga maka kita harus menghidupi keluarga dan butuh harta. Sidharta memilih sendiri dengan meninggalkan anak serta istrinya dalam keadaan sudah mapan dan mandiri, jadi dia tak ada tanggungan buat keluarga.
asam
7 Mei 2011
Islamphobia terjadi karena adanya perlawanan sekelompok orang atas bangsa lain tetapi menggunakan landasan agama sehingga terkesan menyeramkan. Dan mudah difitnah sebagai Teroris.
Awalnya tampak demikian. Bahkan USA pun berusaha menampilkan wajah seperti itu. Tetapi setelah bermunculan aksi sporadis, kartun, burka, pembakaran kitab, adzan, jilbab, dan terjadi di segenap lapisan masyarakat bahkan menjadi perbincangan di hampir setiap makan malam, maka hal ini menjadi isu global. Meski diakui atau tidak, hal ini malah menyebabkan islam dikenal dan menarik untuk dikaji. (hingga tak ada alasan bagi seseorang untuk mengelak tidak mengenal islam =akhir jaman issue=).
Karena tidak mungkin kita memaksakan seseorang berenang padahal dia tak bisa berenang.
Berikut pengandaian yang ekstrem, bahwa madzhab itu penting.
Kasus 1, Ada 1.000 orang di dalam gua yang luas. Mereka kebingungan untuk keluar karena ternyata ada 1.000 lubang yang menyerupai pintu keluar. Akhirnya diputuskan 1 orang – 1 pintu lubang dengan harapan ada salah satu yang selamat. Kemungkinannya 1/1.000.
Sayangnya masing-masing meyakini pintu pilihannya yang benar dan menginginkan temannya ikut dengannya. Maka terjadilah adu argumen sampai tindak kekerasan. Dan tentu saja hanya 1 orang yang akan menang. 1/1.000.
Maka secara sederhana kemungkinan kelompok itu keluar dari gua sebesar 1/1.000 kali 1/1.000.
Kasus 2. Gua itu hanya ada 4 pintu lubang. maka tiap lubang ada 250 orang dengan kemungkinan keluar gua menjadi 250/1.000 atau 1/4.
Dan sama dengan kasus 1, mereka berantem. tetapi karena dalam satu kelompok terdiri banyak orang maka yang bisa bertahan adalah 1 orang hingga 250 orang. Anggap kemungkinan terbesar adalah 1/4 juga.
Kasus 1 dengan kasus 2 === 1:1.000n dengan 1:4n.
Ingat,,, adu argumentasi, pertikaian adalah salah satu sifat dasar manusia yang tak bisa dihindari. Dan mendorong teman ke dalam kolam adalah menyenangkan dan menghibur. Bisa berenang atau tidak, itu urusan belakangan.
Orang berharta itu banyak manfaatnya bagi yang tahu.
Setuju, mas bro. Pemuda yang kuat, sehat, energik, mapan lebih disukai. Namun konteksnya kan kemiskinan berarti lemah fikih. Itu yang saya tak setuju. Banyak sekali contoh kasus yang dari awal miskin hingga akhir tetap miskin pun memiliki fikih yang kuat. Bukan berarti memiliki fikih kuat itu akan menjadi eksis. Dipanggil ustadz -lah, pak haji -lah, ulama -lah.
See QS Luqman.
Wedul Sherenian
10 Mei 2011
Awalnya tampak demikian. Bahkan USA pun berusaha menampilkan wajah seperti itu. …dst
Tetapi bagaimanapun kita harus memasarkan Islam dengan lebih benar bukan
Kasus 1, Ada 1.000 orang di dalam gua yang luas. Mereka kebingungan untuk keluar karena ternyata ada 1.000 lubang yang menyerupai pintu keluar…dst
Dalam hematku Allah tidak ngasih 1 pintu untuk menuju jalan-NYA. Kalo cuma 1 pintu ya jadinya seperti yang mas assam tulis sebagai berikut :
Sayangnya masing-masing meyakini pintu pilihannya yang benar dan menginginkan temannya ikut dengannya. Maka terjadilah adu argumen sampai tindak kekerasan. Dan tentu saja hanya 1 orang yang akan menang. 1/1.000.
Banyak sekali contoh kasus yang dari awal miskin hingga akhir tetap miskin pun memiliki fikih yang kuat. Bukan berarti memiliki fikih kuat itu akan menjadi eksis.
yup memang ada tetapi itu cuma segelintir dan itu karena keimanan mereka sudah mapan, tapi yang selain itu juga banyak. Coba anda bayangkan, jika seluruh bangsa Indonesia Miskin maka Indonesia akan dijajah secara ekonomi, dan coba bayangkan jika yang menjajah itu Kapir…bisa anda bayangkan bagaimana nasib penerus bangsa?. Bagaimanapun Islam mengajarkan keseimbangan dunia akhirat.
asam
13 Mei 2011
… Pemasaran …
Betul mas bro. Saya suka istilah pemasaran. Akan tetapi nantinya menjadi blunder mirip murtadisasi ala kristen. Bagaimana mereka secara masif, memasarkan dan menjaga agar pundi-pundi di sentral (vatikan atau kerajaan western) tetap penuh. “Vini, vidi, vici” atau “glory, gold, gospel” khas feodalism tidak dirasakan oleh kristener, apalagi yang marginal. Hal ini, saya ucapkan bravo buat vatikan dan kroconya.
Lalu pepahaman pemasaran dalam benak kristener menjadi salah satu senjata untuk menuding bahwa arab pun melakukan hal yang sama. Agar fulus masuk ke ras arab dengan menarik devisa dari haji dan wisata religi. Dan mengabaikan kenyataan janji Allah bahwa negeri-negeri muslim terjaga kemakmurannya (minyak dan sumber daya yang lain).
Berikutnya adalah sang pemasar (para da’i,ustadz,ulama) sendiri tidak merasa menjual sesuatu. Bahkan sebaliknya, sesekali ditemukan oknum yang menukar ayat dengan harga yang sedikit. Akankah ada doktrin pemasaran yang lebih baik dari ‘amar ma’ruf nahi munkar’ yang bertujuan untuk menjaga masalah sosial dalam bermasyarakat secara proaktif di tiap individu. Mungkin di tingkat ini yang dimaksud mas bro, tampilan pemasarannya yang elegan untuk non muslim dan fikih lemah.
Akan tetapi mas bro, seberapa elegankah. Meski mengusung tema agama universal, bukan berarti bisa diterima oleh semua tatanan dunia, karena manusia pasti banyak alasan. Haruskah islam menyesuaikan setiap kondisi kebudayaan dan berendah-rendah agar bisa diterima? Inilah kondisi yang diinginkan western dengan isu globalnya “Fanatik, ekstrimis, teroris”. Jebakan kondisi umat yang “…sedikit demi sedikit mengikuti mereka hingga bilamana masuk lubang biawak pun akan diikuti”. —akhir jaman issue—
Allah tidak ngasih 1 pintu untuk menuju jalan-NYA
Ya, sudahlah… Saya juga setuju dengan itu. Saya juga setuju “hormatilah kalau memang tak sama, toh masih sama-sama islam”. Dan itu pun sudah digalakkan di mesir, dimulai dari hasan albana syahidullah.
Akan tetapi yang jadi masalah adalah madzhab menjadi ditakuti. Ilmu agama sekedar hafalan 90 menit seminggu sekali. Akidah… monggo belajar dari lingkungan. Tuntunan… silakan nonton ustadz tontonan (eh, sorry pak ustadz, konteksnya berbeda lho… We’ll still need you, we’ll still loving you). Dan “…maka munculah seorang imam yang bukan dari golonganmu yang akan menegakkan dinul islam”. —akhir jaman issue—
…bisa anda bayangkan bagaimana nasib penerus bangsa?
Huuuiuuuf… saya suka ini…suitsuit dan jempol guede dah… Nasionalisme, kemiskinan, dan doktrin agama. Berat banget… Pending dulu dah…
asam
8 Agustus 2011
Melunasi pending-an, dikutip dari seseorang, fanatisme yang ruwet ala agama-ekonomi-nasionalisme.
Sampah
Di Boja-Tambi, yang setengah jalur tengahnya tengah Jawa Tengah tak terbaca di peta. Di hamparkan harta karun hijau nan gemah ripah loh jinawi. Di mana sunrise berulang,,, Allahu Akbar,,, yang dipetik oleh sejumput jawatan negeri ini.
Di taburi semerbak aroma atsiri, cengkih, bunga kopi, mawar, serai, yang terbungkus tempias embun upas, mengira-kira bau surga gerangan,,, Subhanallah,,, sekeping dua dianggap sempadan oleh tengkulak.
Di kuaskannya putih meragu di ufuk dan tidak dihilangkannya kelembutan awan berair di ujung kaki sana, karena ini adalah perkampungan di atas awan,,, Alhamdulillah,,, semoga tidak menunggu gugurnya humus tanpa pepohonan ini.
Come…Come in to my journey, palz. Di sepenggal negeri mutu manikam ini, niscaya akan kau dapati sampah dzikrullah berserakan di sepanjang jalan,,, Astaghfirullah,,, Tak berdaya untuk membumbung ke langit, seperti debu dan asap tertekan di 1.500 dpl.
Tapi tak mengapa kawan, karena tanah ini telah lama di biarkan kering dari air mata keharuan,,,Yaa Rahmaan Yaa Rohiim,,, Happy anniversary Indonesia.
حَنِيفًا
13 Juni 2011
Kalau sayah panatik sama bodinyah AGNES MONIKA and BELA SHAPIRA…
Pemikir
22 Juni 2011
Wah… Ternyata normal juga … he… he… he…
حَنِيفًا
22 Juni 2011
Kalau menurut Sang Buddha dan ALKITAB.GHOST pell… para PENDETA ber “XXX” sendirian normal juga nggak ?!
Micek
24 Juni 2011
Gereja anglikan menyetujui seorang homo menjadi Uskup itu juga normal dan manusiawi, demi hak azasi manusia katanyah…. indahnya HAM…